Showing posts with label Berita Islam. Show all posts
Showing posts with label Berita Islam. Show all posts

Menjamurnya Masjid dan Masa Depan Islam di Jepang

Menjamurnya Masjid dan Masa Depan Islam di Jepang

Beberapa tahun terakhir ada peningkatan jumlah pelajar dan pekerja Muslim dari berbagai negara Islam yang datang ke Jepang.
Bersamaan dengan itu, kini banyak masjid yang sedang di bangun di sejumlah daerah di Jepang.

Berdasarkan penelitian seorang profesor teori sosial Asia dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Manusia Universitas Waseda, Hirofumi Tanada, pada 2018 terdapat 105 masjid di 36 prefektur di Jepang.

Dan Masjid pun bukan hanya sebagai tempat ibadah Muslim, melainkan juga sebagai tempat pelayanan bagi komunitas, bersosialisasi dan pendidikan.

Lalu dengan semakin banyak masjid di Jepang, bagaimana umat Muslim bisa hidup berdampingan dengan masyarakat Jepang.

Suara azan shalat Jumat baru saja menggema di Islamic Research Center (IRC) Jepang. Masjid itu berada di lantai empat sebuah bangunan di pinggiran Yawata, Prefektur Kyoto.

Ada sebanyak 50 sampai 100 umat Muslim yang tinggal di wilayah itu. Ramzan Mirza (53 tahun) adalah Muslim yang membeli bangunan itu sepuluh tahun lalu.

Setelah itu dia kemudian menggunakannya untuk masjid. Ramzan berasal dari Bangladesh. Dia telah tinggal di Jepang tiga dekade lalu.

Ramzan pun membuka usaha di sekitar banguan yang kini menjadi masjid. Di daerah itu, terdapat banyak perusahaan yang bergelut pada bisnis mobil bekas, dan secara bertahap kini semakin banyak umat Muslim dari berbagai negara menempati daerah itu.

“Bisnis saya telah stabil, jadi saya memutuskan ingin membuat ruang yang bisa membantu umat Islam di sini,” kata Ramzan seperti dilansir the Mainichi pada Selasa (3/12).

Sementara Muslim lainnya, Muhammad Ali (37 tahun), yang juga berasal dari Bangladesh telah tinggal di Jepang sejak enam tahun lalu. Ali juga bekerja di perusahaan penjualan mobil bekas di Kyoto.

“Saya pulang ke negara saya setahun sekali, sangat jauh dari istri dan anak-anak tapi saya merasa lebih tenang bisa datang ke tempat ini, dekat rumah saya,” katanya.

Khalid Sultan (30 tahun) juga bekerja di perusahaan yang sama. Ia berasal dari Suriah.

Sultan datang ke Jepang tujuh tahun lalu bersama saudara laki-lakinya yang berusia 25 tahun. Keduanya melarikan diri ke Jepang lantaran konflik perang saudara di negaranya.

Sementara mayoritas keluarganya memilih tinggal di Turki.

“Menyedihkan, tetapi saya tak bisa kembali ke negara saya. Namun bila saya bertemu dengan teman-teman saya di sini, masalah itu hilang,” kata Sultan.

Sebelum Masjid IRC Jepang dibuka, umat Muslim di wilayah itu harus naik kereta hampir dua jam untuk ke Masjid Muslim di Kobe tepatnya di kota Kobe Prefektur Hyogo.

Sementara Mirza pun berencana mendaftarkan Masjid IRC Yawata sebagai pusat keagamaan dan juga menjadikannya sebagai pusat penelitian Islam melalui kerjasama dengan Universitas Jepang.

Untuk diketahui, Masjid pertama yang berdiri di Jepang adalah Masjdi Muslim Kobe.

Masjid ini didirikan pada 1935 oleh warga Turki dan India. Menurut penelitian profesor Tanada, hanya ada tiga masjid di Jepang pada akhir 1980-an.

Namun pada paruh dekade kedua, banyak orang-orang Muslim yang datang dari Iran, Pakistan, Bangladesh, dan lainnya datang ke Jepang.

Ada yang menjadi buruh dan banyak juga yang bekerja di sektor bisnis konstruksi dan lainnya.

Setelah itu, ada gelombang kedatangan para trainer dan pekerja dari Indonesia dari 1990 dan 2000-an, bersamaan dengan itu terjadi peningkatan jumlah Masjid.

Pada waktu itu jumlah pelajar dan yang mengikuti pelatihan  dari berbagai daerah mayoritas Muslim pun meningkat.

Tercatat pada 2014 hanya ada 80 masjid, jumlahnya melonjak pada 2018 menjadi 105 masjid.

Dulu, kebanyakan Muslim yang datang dari berbagai negara itu berada di daerah pusat industri, seperti Tokyo, daerah metropolitan Chukyo di sekitar Nagoya di Prefektur Aichi, hingga Kansai.

Namun baru-baru ini terjadi peningkatan jumlah Muslim terutama di kalangan mahasiswa yang tinggal di ibu kota prefektur.

Profesor Tanada memperkirakan ada sekitar 200 ribu Muslim tinggal di Jepang. Di mana 43 ribu diantaranya berkebangsaan Jepang termasuk mereka yang pindah agama untuk menikah dengan seorang Muslim.

Seperti Masjid terbesar di Jepang yakni Tokyo Camii di ibukota Shibuya Ward, tercatat ada sekitar 700 hingga 800 orang yang datang ke masjid itu untuk melakukan shalat Jumat.

Jamaah berasal dari berbagai negara di Asia tenggara, Arab dan negara-negara Afrika. Masjid ini juga mempunyai kelas Alquran dan Arab.

“Orang-orang mukmin datang dari seluruh Kanto seperti halnya turis dari negara-negara Islam. Bagi umat Muslim, ini seperti tempat berlindung,” kata kepala Humas Muslim Jepang, Shigeru Shimoyama.

Sumber: republika.co.id

Pertama Kali, Nama ‘Muhammad’ Masuk Daftar 10 Nama Bayi Teratas di Amerika

Pertama Kali, Nama ‘Muhammad’ Masuk Daftar 10 Nama Bayi Teratas di Amerika

Untuk pertama kalinya, Muhammad masuk ke dalam daftar 10 nama bayi paling populer untuk anak laki-laki di Amerika Serikat (AS).
Nama Muhammad ada di peringkat 10 atau naik empat peringkat dari tahun lalu.

Seperti dilansir CNN, Sabtu (7/12/2019), data ini dikeluarkan situs pengasuhan BabyCenter.

Nama Muhammad terus naik peringkatnya selama bertahun-tahun dan pertama masuk 100 besar di tahun 2013.

“Keluarga Muslim sering memilih Muhammad untuk putra sulung untuk menghormati nabi dan membawa berkah bagi anak itu,” kata pemimpin redaksi global BabyCenter, Linda Murray, dalam rilis berita.

“Nama itu juga memiliki beberapa ejaan, dan itu membantu sebuah nama masuk ke dalam 10 besar,” imbuhnya.

Posisi teratas, nama Liam jadi yang terpopuler untuk anak laki-laki. Liam menggeser Jackson yang telah enam tahun berturut-turut ada di posisi nomor satu.

Sementara Sophia tetap jadi nama yang paling sering dipakai untuk bayi perempuan. Sophia sudah bertahan selama satu dekade sebagai pilihan pertama orang tua di AS untuk bayi perempuan mereka.

BabyCenter mengatakan datanya berasal dari hampir 600.000 orang tua yang berbagi nama bayi mereka dengan organisasi pada tahun 2019.

Peringkatnya juga menggabungkan nama-nama yang terdengar sama tetapi memiliki banyak ejaan (seperti Mohammad dan Muhammad).

Administrasi Jaminan Sosial juga membuat peringkat popularitas nama-nama bayi menggunakan catatan semua bayi yang lahir di AS, tetapi agensi memperlakukan setiap ejaan unik sebagai nama yang terpisah.

Agensi belum merilis daftar sendiri, tetapi data Jaminan Sosial menunjukkan Muhammad naik dari peringkat 620 pada tahun 2000 menjadi peringkat 345 pada tahun 2018. Agensi tersebut tidak memasukkan beragam ejaan dalam peringkat itu.

Nama-nama asal Arab sedang meningkat, menurut BabyCenter. Di saat nama Muhammad masuk ke 10 besar untuk anak laki-laki, Aaliyah ada di posisi 10 besar untuk anak perempuan.

Isla, nama Skotlandia, juga naik 38 peringkat dari tahun lalu. Eleanor dan Miles tercatat jadi nama dengan kenaikan tercepat kedua.

Berikut 10 nama bayi teratas untuk anak laki-laki dan perempuan tahun ini, menurut peringkat BabyCenter:

Nama terpopuler untuk anak laki-laki:


  1. Liam
  2. Jackson
  3. Noah
  4. Aiden
  5. Grayson
  6. Caden
  7. Lucas
  8. Elijah
  9. Oliver
  10. Muhammad

Nama paling populer untuk anak perempuan:


  1. Sophia
  2. Olivia
  3. Emma
  4. Ava
  5. Aria
  6. Isabella
  7. Amelia
  8. Mia
  9. Riley
  10. Aaliyah


Sumber: detik.com

Apakah Ruh Akan Kembali ke Tubuh Saat Pertanyaan Kubur?

Apakah Ruh Akan Kembali ke Tubuh Saat Pertanyaan Kubur?

Saat malaikat memberi pertanyaan kubur, apakah ruh kembali masuk ke jasad?
Kedatangan malaikat Izrail untuk mencabut nyawa (ruh) merupakan simbol kematian. Tak heran hampir kebanyakan orang mengimajinasikan Malaikat Izrail sebagai malaikat yang ‘menyeramkan’, sebab kebanyakan orang takut mengalami kematian (terbukti dengan doa yang dipanjatkan adalah meminta diberi umur yang panjang).

Manusia akan mengalami kematian saat ruh terpisah dari jasad/badan melalui cabutan malaikat Izrail atas perintah Allah. Lalu, jika ruh telah terpisah dari tubuh, maka apakah ruh akan kembali ke badan ketika malaikat Munkar dan Nakir memberikan ‘pertanyaan kubur’?

Ada dua pendapat mengenai pertanyaan ini. Pendapat pertama menyatakan bahwa ruh tidak mungkin kembali ke tubuh (jasad) sebelum hari kiamat. Pendapat ini disampaikan oleh Abu Muhammad bin Hazm (seorang Ulama’ dari Spanyol dan masyhur dengan sebutan Ibn Hazm) di dalam Kitab al-Milal wa an-Nahl. Dalil yang dipegang oleh Muhammad bin Hazm adalah ketiadaan mayat yang bisa hidup di dalam kubur.

Pendapat pertama tersebut ditentang oleh pendapat kedua yang menyatakan bahwa ruh kembali tubuh (jasad) untuk menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir. Pendapat ini dipegang oleh Ahlus Sunnah dengan dalil hadis Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah, dan Abu ‘Awanah al-Isfiroiny dalam kitab sahihnya sekaligus hadis ini disahihkan oleh Imam Hakim:

Dari Barra’ bin ‘Azib, diceritakan bahwa suatu hari Barro’ mengantarkan jenazah Sahabat Nabi Muhammad di pekuburan Baqi’ al-Qharqad. Kemudian Nabi Muhammad mendatanginya lalu duduk dan Barra’ (beserta Sahabat lainnya) ikut duduk dengan khidmat seakan-akan ada burung yang hinggap di atas kepala sembari menunggu liang lahat digali.

Setelah penguburan siap, Nabi Muhammad berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari siksa kubur” sebanyak tiga kali; lalu Nabi Muhammad berkata lagi, “Sesungguhnya seorang hamba yang beriman ketika telah waktunya menghadap ke akhirat dan meninggalkan dunia, maka para malaikat dengan wajah yang bersinar seperti sinar matahari akan turun untuk menemuinya. Para malaikat tersebut membawa kain kafan dan parfum dari surga, kemudian sejauh mata memandang (saking banyaknya), mereka duduk di sekitar hamba tersebut.

Setelah itu, Malaikat Maut turun dan mengambil posisi di arah kepala orang beriman tersebut, sembari berkata ‘Wahai jiwa yang mulia, keluarlah menuju ampunan Allah dan ridho-Nya’. Ruh tersebut keluar dengan mudah dari tubuhnya layaknya air yang mengalir dari mulut sebuah kendil, kemudian ruh tersebut diambil oleh malaikat maut dan dalam waktu sekejap diserahkan kepada para malaikat dengan wajah bersinar untuk dibungkus dengan kafan dan parfum dari surga.

Saat itulah, tercium bau paling harum yang pernah ada di muka bumi. Ruh dengan kafan dan parfum dari surga tersebut diangkat ke langit dan setiap melewati golongan malaikat akan muncul pertanyaan ‘Nyawa siapakah yang amat mulia tersebut?’, lalu dijawab bahwa ini adalah ruh Fulan bin Fulan sesuai dengan nama terbaik yang digunakan di dunia.

Sesampainya di langit dunia, para malaikat pengantar meminta izin untuk memasukinya dan diberikan izin. Seluruh malaikat yang ada di langit tersebut ikut mengantarkannya menuju lapisan langit berikutnya hingga sampai di langit yang paling tinggi, lalu Allah berkata ‘Tulislah nama hambaku ini di ‘Illiyyin, lalu kembalikan ia ke bumi (jasad-nya). Sebab dari-nya (bumi) Aku ciptakan mereka (manusia), pada-nya Aku kembalikan mereka, dan dari-nya akan Kubangkitkan mereka’.

Ruh mulia tersebut dikembalikan lagi ke tubuhnya di bumi yang disusul dengan kedatangan dua malaikat yang memerintahkan ruh tersebut untuk duduk. Dua malaikat tersebut memberikan pertanyaan-pertanyaan (mulai dari ‘Siapa Tuhanmu? Dan sebagainya’) dan mampu dijawab dengan benar semuanya. Tetiba terdengan suara dari langit yang berseru ‘Hamba-Ku benar! Hamparkanlah surga untuknya, pakaikan pakaian dari surga untuknya, dan bukakan pintu ke arah surga!’ Kemudian berhembus angin yang segar dengan aroma surgawi serta kuburnya diluaskan sepanjang mata memandang.

Kala itu, datang seorang pemuda asing dengan wajah terlampau tampan yang mengenakan pakaian indah dan beraroma harum. Pemuda itu berkata, ‘Bergembiralah, sebab hari ini adalah hari yang telah dijanjikan kepadamu’. Sang mu’min bertanya, ‘Siapakah Engkau? Wajahmu melambangkan kebaikan’. Dijawab oleh pemuda, ‘Aku adalah amal salehmu’. Sang mu’min pun berdoa, ‘Wahai Tuhanku, segeralah datangkan kiamat agar Aku bisa segera berjumpa dengan keluargaku dan hartaku’”…. (perkataan Nabi Muhammad selanjutnya menceritakan tentang ruh orang kafir).

Hadis ini menunjukkan bahwa ruh akan kembali lagi ke jasad (tubuh) untuk menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir, tetapi Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab ar-Ruh menyebutkan bahwa pengembalian ruh bukan kategori pengembalian yang sempurna. Pengembalian ruh secara sempurna akan terjadi pada hari kiamat. (AN)

Wallahu A’lam.

Sumber : islami.co

Nabi Ditanya, Mengapa Perempuan Jarang Disebutkan dalam al-Qur’an? Ini Jawabannya

Nabi Ditanya, Mengapa Perempuan Jarang Disebutkan dalam al-Qur’an? Ini Jawabannya

Akhir-akhir ini, gerakan penyetaraan gender semakin digaung-gaungkan oleh berbagai kalangan, dari mulai para feminis hingga ibu rumah tangga.
Namun apabila kita telisik lebih dalam lagi, upaya penyetaraan gender sesungguhnya telah muncul sejak masa Nabi SAW.

Sebelum Islam datang, Bangsa Arab dikenal sebagai penyembah berhala yang berkelakuan amoral. Oleh sebab itulah masa itu disebut jahiliyah.

Philip K. Hitti mendefinisikan masa jahiliyah sebagai masa di saat masyarakat tidak memiliki nabi tertentu yang diutus dan memimpin, serta tidak memiliki kitab suci khusus yang diwahyukan dan menjadi pedoman hidup (Philip K. Hitti, 2005).

Salah satu prilaku jahiliyah mereka adalah ketidakadilan pada perempuan. Bayi-bayi perempuan dikubur hidup-hidup karena dianggap aib bagi keluarga.

Perempuan dianggap lemah dan hanya bisa menjadi beban ekonomi keluarga.

Kalaupun bayi perempuan terbebas dari maut, mereka akan hidup dalam kesengsaraan. Tidak diakui hak-haknya, tidak mendapatkan warisan dan justru diwariskan seperti barang.

Namun Islam datang membawa misi pembebasan bagi manusia, termasuk pembebasan perempuan dari segala bentuk diskriminasi dan ketidakadilan.

Islam menjunjung tinggi hak-hak perempuan, serta mengangkat harkat dan martabat mereka.

Di samping misi mulia Islam, kita perlu meningat pula bahwa mengubah keadaan yang telah melekat turun-temurun tak semudah membalikkan telapak tangan.

Coba kita ingat kembali bagaimana larangan meminum khamr diturunkan secara bertahap. Juga upaya Islam menghapuskan perbudakan manusia secara perlahan.

Begitu pula upaya menghapuskan ketidakadilan bagi perempuan, sungguh tak mudah mengubah pola pikir yang telah mengakar dari nenek moyang.

Meskipun demikian, pembelaan Islam terhadap hak-hak perempuan merupakan kemajuan pesat dibandingkan perlakuan masyarakat Arab jahiliyah kala itu.

Upaya penyetaraan hak antara laki-laki dan perempuan tidak hanya diperintahkan oleh Allah dan dicontohkan oleh Nabi, tapi juga didukung para sahabat perempuan.

Salah satu sahabat perempuan yang cukup lantang dalam menyuarakan hak-hak perempuan adalah Ummu Umarah.

Dalam sunan at-tirmidzi, musnad Ishaq bin Rohawaih dan al-Mu’jam al-Kabir li Thabrani, disebutkan hadis tentang Ummu Umarah yang bertanya kepada Rasulullah SAW.

يَا رَسُولَ اللَّهِ, مَا أَرَى كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا لِلرِّجَالِ , لَا أَرَى لِلنِّسَاءِ ذِكْرًا
“Ya Rasulullah, tidaklah aku lihat segala sesuatu melainkan diperuntukkan untuk laki-laki, dan setahuku kaum perempuan tidak disebutkan sama sekali.”

Maka Allah SWT kemudian berfirman surah al-Ahzab ayat 35:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
Dalam riwayat lainnya, disebutkan bahwa Ummu Salamah juga pernah mengutarakan kegelisahan yang sama. Dari Abdurrahman bin Syaibah, ia mendengar Ummu Salamah bertanya kepada Nabi SAW:

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَنَا لَا نُذْكَرُ فِي الْقُرْآنِ، وَيُذْكَرُ الرِّجَالُ
“Ya Rasulullah, mengapa kami (kaum perempuan) tidak (amat jarang) disebutkan dalam al-Qur’an, sedangkan laki-laki (selalu) disebut-sebut?”

Setelah mengutarakan kegelisahannya pada Rasulullah, Ummu Salamah kemudian berkata:

“Tidak ada yang paling mengejutkanku di hari itu kecuali suara Rasulullah di atas mimbar. Ketika itu aku sedang menyisir rambut, aku langsung membenahi rambutku lalu keluar menuju suatu ruangan dan mendengarkan (khutbah Nabi).”

Ternyata beliau berkata di atas mimbar:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ: إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
Hadis ini tercantum dalam beberapa kitab, diantaranya Musnad Ishaq bin Rahawaih, Musnad Ahmad, dan al-Jami’ ash-shahih lissunan wal masanid karya Suhaib Abdul Jabbar.

Peristiwa ini menggambarkan upaya para sahabat perempuan dalam menjunjung hak dan kesetaraan gender. Mereka tak takut menyuarakan pikiran dan isi hatinya kepada Nabi.

Peristiwa ini juga membuktikan bahwa Islam begitu menjunjung tinggi hak-hak perempuan. Bahkan Allah SWT dan Nabi SAW begitu cepat merespon suara perempuan yang mengadukan isi hatinya.

Ketika Nabi ditanya: “Mengapa perempuan jarang disebutkan dalam Al-Qur’an?”

Allah SWT langsung menurunkan ayat yang menyebutkan perempuan.

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah SWT tidak melihat hambanya dari jenis kelamin semata, melainkan dari iman dan takwanya.

Terlebih dalam khutbahnya Nabi juga memperingatkan seluruh manusia (يَا أَيُّهَا النَّاسُ) untuk memperhatikan ayat ini, tanpa terkecuali, baik laki-laki maupun perempuan.

Ini artinya, kesetaraan gender memang harus diperjuangkan oleh siapapun, bukan hanya para perempuan saja. Karena Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi keadilan dan persamaan.

Wallahu a’lam bisshawab

Sumber: islami.co

Sifat dan Sosok Israfil, Malaikat Peniup Sangkakala

Sifat dan Sosok Israfil, Malaikat Peniup Sangkakala

Abu al-Farj Jamaluddin Ibn Jauziy dalam kitab Bustanul Wa’izhin wa Riyadh al-Sami’in menjelaskan tentang bagaimana sifat dan sosok Malaikat Israfil, malaikat yang bertugas meniup sangkakala sebagai tanda bahwa hari kiamat tiba.
Israfil As adalah malaikat yang sangat besar. Satu syapnya ada di timur dan satu lagi ada di barat. Kakinya berada di lapisan ketujuh bumi yang paling bawah yang jaraknya lima ratus tahun perjalanan. Sementara itu, tujuh lapis langit hanya sampai kedua lututnya. Lehernya merunduk di bawah Arsy Allah, sementara itu Ars yada di pundaknya. Ia membentangkan kaki kanannya dan mengundurkan kaki kirinya.

Sementara itu Lauh Mahfudz berada di depan matanya, ia menyandang sangkakala dan panadngannya selalu melirik kea rah Arsy, telinganya selalu waspada mendengar perintah Allah untuk meniup sangkakala. Sementara sangkalala ada;ah sebentuk tanduk yang terbuat dari cahaya.

Dalam sebuah hadis disebutkan

الصور قرن من نور، والذي نفسي بيده إن أعظم ثارة فيه كما بين السماء والأرض

Artinya; Sangkakala itu sebentuk tanduk yang terbuat dari cahaya. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya gemuruh suara yang terbesar di dalamnya seperti gemurh suara di antara langit dan bumi.

Ibnu Jauzi menerangkan bahwa ia tidak menemukan riwayat dengan lafal seperti di atas, hanya saja terdapat hadis riwayat Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi dari Abdullah Ibn Amr ibn Ash bahwa nabi bersabda, “Sangkakala adalah tanduk.” Hadis ini dinilai shahih oleh Imam Albani dalam Silsilatus Shahih.

Diriwayatkan bahwa ketika sangkala ditiup bersamaan dengan angin yang bertiup kencang, karenanya setiap ada angin kencang nabi merasa takut dan tidak tenang.  Dalam riwayat Imam Tirmidzi lainnya diterangkan

عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: كيف أنعم وصا حب الصور قد التقم الصور ومنى جبحته وشخص للصره نحو العرض وأنصت بإذنيه ينتظر متى يؤمر أن ينفخ في الصور

Nabi bersabda, “Bagaimana aku merasa tenang, padahal pengusung sangkakala tengah menempelkan sangkakala itu di mulutnya dan menundukkan keningnya, memusatkan padanangan kea rah Arsy, memasang kedua telinganya untuk mendengar kapan ia diperintahkan untuk meniup sangkakala tersebut.” (HR. Tirmidzi)

Akibat kerasnya suara tiupan sangkakala Israfil, bumi bergoncang dari timur ke barat semua menjadi binasa. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali Allah (QS. Al-Qashash; 88) Dalam kitab tafsir disebutkan, bahwa segala sesuatu itu rusak dan binasa kecuali amal yang diniatkan untuk mencari ridha Allah.

Sumber : bincangsyariah.com

Agar Rasa Syukur Kita Sempurna, Ini yang Harus Dihayati

Agar Rasa Syukur Kita Sempurna, Ini yang Harus Dihayati

Orang yang bersyukur senantiasa menisbatkan setiap nikmat yang didapatnya kepada Allah. Ia senantiasa menyadari bahwa hanya atas takdir dan rahmat Allah semata lah nikmat tersebut bisa diperoleh. Sedangkan orang yang kufur nikmat senantiasa lupa akan hal ini.
Sungguh aneh jika ada orang yang mengaku bersyukur, ia menyadari segala yang ia miliki semata-mata atas keluasan rahmat Allah, namun di sisi lain melalaikan perintah Allah dan melanggar larangan-Nya. Amatlah jauh antara pengakuan dan kenyataan.

Padahal rasa syukur itu ditunjukkan dengan jalan ketakwaan. Dalam hal ini selaras dengan pernyataan Imam Sahl Bin Abdillah dalam kitab Al Munir, yaitu:

وَالشُّكْر ِللهِ هي الإجْتِهَاد فِي بَذْلِ الطَّاعَةِ مَعَ الإجْتِنَابِ لِلْمَعْصِيَّةِ فِي السَّرِّ وَالْعَلاَنِيَةِ

Syukur kepada Allah ialah bersungguh-sungguh memusatkan segala perhatian mentaati Allah dan menjauhi ma’shiat baik dikala rahasia maupun terang-terangan

Lantas seperti apakah kesempurnaan syukur itu? Dikatakan dalam kitab Mauidzatul Mu’minin bahwa mengetahui untuk apa Allah menciptakan kemudian kita gunakan untuk sesuatu yang Allah suka adalah syukur yang sempurna.

Alhasil, kesempurnaan syukur menuntut manusia untuk menggunakan apa-apa yang dianugerahkan oleh Allah dengan semestinya. Dengan apa yang disukai Allah, bukan yang disukai kita. Cuplikan dari pembahasan kesempurnaan syukur adalah sebagai berikut:

إن فعل الشكر لا يتم الأ بمعرفة ما يحبه الله تعالى عما يكرهه

Syukur itu tidak sempurna kecuali dengan mengetahui untuk apa Allah mencincptakan, lalu kita pakai sesuai apa yang disukai-Nya, bukan untuk yang tidak disukai-Nya.

Langkah awal untuk menyempurnakan syukur adalah mencari tahu untuk apa Allah menciptakan. Misal saja Allah menciptakan telinga untuk mendengar. Iya telinga untuk mendengar, tapi kita gunakan untuk apa?

Orang yang sudah sampai pada titik kesempurnaan syukur akan menggunakan telinganya untuk hal-hal yang disukai Allah, misalnya mendengarkan murattal Al Qur’an atau podcast pengajian tafsir Al Qur’an.

Telinga memang bisa digunakan untuk mendengarkan hal-hal lain yang lebih disukai oleh kaum manusia, seperti mendengarkan musik atau rekaman audio recording lainnya yang jelas membawa kepala berangguk-angguk.

Namun sekali lagi ditegaskan bahwa kesempurnaan syukur itu hadir ketika kita menggunakan nikmat itu sesuai dengan apa yang Allah suka, bukan yang manusia suka.

Dari sini kita bisa membedakan mana yang syukur biasa dan mana syukur yang sempurna.  Meskipun berat dan tidak mudah, semoga kita bisa beralih sedikit demi sedikit menuju syukur yang sempurna.

Sumber : bincangsyariah.com

Sejak 107 Tahun yang Lalu, Azan Kembali Dikumandangkan di Masjid Kuno Makedonia Utara

Sejak 107 Tahun yang Lalu, Azan Kembali Dikumandangkan di Masjid Kuno Makedonia Utara

TURKI–Untuk pertama kalinya sejak 1 abad lebih, tepatnya 107 tahun, Azan kembali dikumandangkan di sebuah masjid kuno di Makedonia Utara dalam.
Menara masjid kuno, Masjid Ali Pasha di Kota Ohrid, Makedonia Utara dihancurkan dalam Perang Balkan yang berlangsung antara 1912-1913.

Masjid Ali Pasha di Kota Ohrid yang sempat hancur ini, telah direnovasi oleh Direktorat Urusan Agama Pemerintah Turki.

Pemerintah Turki memang terkenal aktif membangun kembali masjid-masjid tua yang sudah hancur di berbagai belahan dunia.

Presiden Recep Tayyip Erdogan sering mempelopori upaya perbaikan masjid-masjid.

Proyek yang diluncurkan untuk memperbaiki Masjid Ali Pasha dan menaranya menelan biaya $2,5 juta atau Rp35.208.000.000.

Meski biaya cukup tinggi, namun masjid kuno itu sangat berharga karena memiliki nilai sejarah.

Sekarang untuk pertama kalinya sejak Perang Balkan, azan mulai dikumandangkan lagi di masjid.

Masjid Ali Pasha dibangun pada 1573 atas perintah penguasa Kekaisaran Ottoman Turki. Oleh karena itu Turki bersemangat untuk memperbaiki masjid bersejarah ini. []

SUMBER: ABNA

Para Pendosa Yang Menangisi Dosanya Lebih Dicintai Allah Daripada Ahli Dzikir Yang Membanggakan Amalnya

Para Pendosa Yang Menangisi Dosanya Lebih Dicintai Allah Daripada Ahli Dzikir Yang Membanggakan Amalnya

Ketika seseorang ibadah kepada Allah maka ia tertuntut untuk ikhlas, benar dalam mengerjakannya, mencintai ibadah itu, menyadari nikmat Allah pada ibadah yang ditegakkannya, mengakui ada ketidaksempurnaan ibadahnya, dan tidak ada jaminan ibadah itu diterima.
Saat ia mampu beribadah maka ia terancam tidak ikhlas, menyelisihi sunnah, lupa nikmat, merasa diri hebat, dan sudah memberikan hak Allah sehingga merasa Allah ‘wajib’ menerima dan memberinya pahala. Ini sikap tidak baik pada orang yang lupa diri. Ini sangat berbeda dengan orang-orang shalih yang diabadikan dalam Al-Qur’an.

Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman,

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mukminun: 60)

Maksudnya: mereka senantiasa mengeluarkan sedekah, infak, nafkah, dan bantuan-bantuan. Kondisi hati mereka dengan banyaknya amal-amal terebut dipenuhi rasa takut. Yaitu takut kalau Allah tidak menerima amal-amal mereka.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘Anha berkata, “Aku telah bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam tentang ayat ini, apakah mereka orang-orang yang minum khamer, pezina, dan pencuri? Beliau menjawab, “Tidak, wahai putri al-Shiddiq. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, menunaikan shalat dan shadaqah namun mereka takut kalau amalnya tidak diterima.” (HR. Tirmidzi)

Oleh sebab itu, siapa yang mendapatkan taufiq dari Allah untuk beramal shalih janganlah ia memandang dirinya sebagai manusia suci yang pasti selamat dari neraka dan terjamin surga. Akibatnya, lemah isti’anah dan tawakkal kepada Allah. Diikuti keleemahan rasa takut terhadap rencana tersembunyi (makar) Allah terhadap dirinya. Juga lemah roja’ (pengharapan) kepada ampunan dan rahmat-Nya.

Ujub (bangga diri) dengan amal melahirkan kesombongan sehingga memandang rendah orang yang tidak beramal seperti amalnya. Boleh jadi orang-orang tersebut lebih dekat kepada Allah dengan amal lain.

Al-‘Allamah Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Rahimahullah berkata,

“Jika Allah Ta’ala membukakan untukmu pintu (memudahkan) shalat malam, jangan memandang rendah orang yang tertidur. Jika Allah membukakan untukmu pintu puasa (sunnah), janganla memandang rendah orang yang tak berpuasa. Dan jika Allah membukakan untukmu pintu jihad, maka jangan memandang rendah orang yang tak berjihad. Sebab, bisa saja orang yang tertidur, orang yang tidak berpuasa (sunnah) dan orang yang tak berjihad itu lebih dekat kepada Allah ketimbang dirimu.”

Kemudian beliau melanjutkan,

“Sungguh, engkau ketiduran sepanjang malam lalu menyesal di waktu pagi, lebih baik daripada melewati malam dengan ibadah tapi merasa bangga di pagi hari. Itu karena orang yang sombong, amalannya tidak akan naik ke sisi Allah.” (Madarij As-Salikin: 1/177).

Orang yang menangis sambil mengakui dosa dan kekurangan dirinya itu lebih baik daripada orang yang tertawa sambil merasa diri sebagai orang shalih.

Para pendosa yang menangisi dosanya lebih dicintai Allah daripada tukang dzikir yang membanggakan amalnya. Karena boleh jadi, Allah akan memberikan obat atas penyakit dosanya. Sedangkan orang yang berbangga tersebut meninggal di atas ujub dan kesombongannya sementara ia tidak mengetahuinya. Naudzubillah min dzalik.

Sumber : kabarmakkah.com

Perbanyak Zikir saat Senang, Allah Mudahkan Terkabulnya Doa di Kala Susah

Perbanyak Zikir saat Senang, Allah Mudahkan Terkabulnya Doa di Kala Susah

Dalam kitab al-Adzkar, Imam Nawawi menjelaskan bahwa Rasulullah menghimbau umatnya agar tidak berdoa kepada Allah hanya di saat kesusahan saja. Tapi hendaknya doa dilakukan secara istiqamah, baik di saat senang atau sedih.
Sebab memperbanyak zikir dan berdoa di kala senang akan mempermudah terkabulnya doa ketika tertimpa kesusahan dan musibah. Sebagaimana dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi dari Ibu Hurairah dari Nabi Saw bahwa beliau bersabda,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِيبَ اللَّهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَالكَرْبِ فَلْيُكْثِرِ الدُّعَاءَ فِي الرَّخَاءِ

“Siapa yang ingin dikabulkan oleh Allah Swt ketika tertimpa kesulitan dan kesusahan, hendaknya memperbanyak doa ketika senang.” (HR. Tirmidzi)

Dalam hadis lainnya dengan redaksi berbeda Rasulullah juga mengatakan, bahwa jika kita mengingat Allah di saat senang maka Allah akan mengingat kita di saat sempit. Hadis ini merupakan nasehat agar umat Islam selalu mengingat Allah kapanpun dan tidak hanya meminta pertolongannya hanya saat tertimpa kesulitan. Hal ini yang juga Allah peringatkan dalam firman-Nya

وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُ مُنِيبًا إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُ نِعْمَةً مِنْهُ نَسِيَ مَا كَانَ يَدْعُو إِلَيْهِ مِنْ قَبْلُ

Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu. (QS. Az-Zumar; 8)

Rasulullah pun sosok yang selalu berdoa baik dalam keadaan lapang atau sempit. Banyak doa-doa yang Rasulullah baca setiap waktu, tidak terbatas pada keadaan tertentu. Menurut Imam Nawawi, di antaranya doa yang sering dipanjatkan oleh Nabi Muhammad Saw. adalah doa yang berasal dari hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim dari Anas ra. bahwa dia berkata; ” Doa yang sering diucapkan Nabi Saw adalah

اللهم آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

Allahumma aatinaa fid dunyaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah wa qinaa ‘adzaaban naar

“Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami dalam kehidupan dunia kebaikan dan dalam kehidupan akhirat kebaikan  dan jauhkanlah kami dari api neraka” (HR. Bukhari & Muslim)

Sumber : bincangsyariah.com

Ragu Status Wudu Batal Atau Tidak, Apa yang Mesti Dilakukan?

Ragu Status Wudu Batal Atau Tidak, Apa yang Mesti Dilakukan?

WUDU atau bersuci merupakan tahapan yang wajib dikerjakan sebelum Muslim melaksanakan salat. Namun setelah wudu selesai, terkadang seorang umat meragukan status wudunya karena sesuatu hal. Jika demikian, apa yang harus dilakukan?
Dilansir dari laman Lirboyo pada Rabu (27/11/2019), dalam keadaan penuh dilema, maka wudu tersebut tidak dihukumi batal sehingga boleh melajutkan ibadah. Alasannya adalah karena yang ia meyakini keadaan suci.

Sementara keraguan akan membatalkan wudu yang sebatas asumsi tidak dapat menghilangkan keyakinan sebelumnya.

Imam Abu Ishaq as-Syirazi (w. 1083 H) menegaskan dalam kitab al-Muhadzdzab:

وَمَنْ تَيَقَّنَ الطَّهَارَةَ وَشَكَّ فِي الْحَدَثِ بَنَى عَلَى يَقِيْنِ الطَّهَارَةِ لِأَنَّ الطَّهَارَةَ يَقِيْنٌ فَلَا يُزَالُ ذَلِكَ بِالشَّكِّ وَإِنْ تَيَقَّنَ الْحَدَثَ وَشَكَّ فِي الطَّهَارَةِ بَنَى عَلَى يَقِيْنِ الْحَدَثِ لِأَنَّ الْحَدَثَ يَقِيْنٌ فَلَا يُزَالُ بِالشَّكِّ

“Seseorang yang yakin suci dan ragu dengan hadas, maka ia menetapkan keyakinan sucinya. Karena keyakinan akan hukum suci tidak dihilangkan dengan keraguan hadas. Begitu pula seseorang yang yakin hadas dan ragu dengan kesuciannya, maka ia menetapkan keyakinan hadasnya. Karena keyakinan akan hukum hadas tidak dihilangkan dengan keraguan suci.”( Al-Muhadzdzab, Vol. I halaman 53).

Sementara itu ada juga kaidah fikih:

اَلْيَقِيْنُ لَا يُزَالُ بِالشَّكِّ

“Keyakinan tidak dapat dihilangkan dengan keraguan”. ( Al-Asybah wa an-Nadhair, Halaman 7).

Lebih lanjut dalam artikel sebelumnya dibahas bahwa air yang bisa dipakai untuk wudu adalah air suci. Dalam artikel ini, Madzhab Syafi'i membagi air menjadi empat kategori. Antara lain air suci dan menyucikan, air musyammas, air suci namun tidak menyucikan, dan air mutanajis.
1. Air suci dan menyucikan

Air suci dan menyucikan adalah jenis air mutlak yang sumbernya berasal dari langit (hujan) serta sifatnya tidak berubah. Air ini bisa untuk bersuci.


2. Air musyammas

Air musyammas adalah air yang dipanaskan di bawah terik sinar matahari dengan menggunakan wadah yang terbuat dari logam selain emas dan perak, seperti besi atau tembaga. Air ini hukumnya makruh untuk bersuci atau wudu.

3. Air suci namun tidak menyucikan

Jenis air ini terbagi ke dalam dua bagian, yaitu air musta'mal dan air mutaghayar. Musta'amal adalah air yang telah digunakan untuk bersuci, baik untuk menghilangkan hadas (wudhu dan mandi).

Sedangkan air mutaghayar, yaitu air yang mengalami perubahan dan salah satu sifatnya disebabkan tercampur dengan barang suci lainnya sehingga hilang kemutlakannya. Akibatnya air ini tak bisa untuk bersuci.

4. Air mutanajis

Air mutanajis adalah air yang terkena barang najis, di mana volumenya kurang dari dua qullah atau volumenya mencapai dua qullah sehingga sifat airnya berubah, seperti bau, rasa beda, dan warnanya pun berubah. Jenis air ini tidak bisa digunakan untuk bersuci

Sumber : https://muslim.okezone.com/read/2019/11/27/330/2135000/ragu-status-wudu-batal-atau-tidak-apa-yang-mesti-dilakukan?