Showing posts with label Berita Islam. Show all posts
Showing posts with label Berita Islam. Show all posts

Menjamurnya Masjid dan Masa Depan Islam di Jepang

Menjamurnya Masjid dan Masa Depan Islam di Jepang

Beberapa tahun terakhir ada peningkatan jumlah pelajar dan pekerja Muslim dari berbagai negara Islam yang datang ke Jepang.
Bersamaan dengan itu, kini banyak masjid yang sedang di bangun di sejumlah daerah di Jepang.

Berdasarkan penelitian seorang profesor teori sosial Asia dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Manusia Universitas Waseda, Hirofumi Tanada, pada 2018 terdapat 105 masjid di 36 prefektur di Jepang.

Dan Masjid pun bukan hanya sebagai tempat ibadah Muslim, melainkan juga sebagai tempat pelayanan bagi komunitas, bersosialisasi dan pendidikan.

Lalu dengan semakin banyak masjid di Jepang, bagaimana umat Muslim bisa hidup berdampingan dengan masyarakat Jepang.

Suara azan shalat Jumat baru saja menggema di Islamic Research Center (IRC) Jepang. Masjid itu berada di lantai empat sebuah bangunan di pinggiran Yawata, Prefektur Kyoto.

Ada sebanyak 50 sampai 100 umat Muslim yang tinggal di wilayah itu. Ramzan Mirza (53 tahun) adalah Muslim yang membeli bangunan itu sepuluh tahun lalu.

Setelah itu dia kemudian menggunakannya untuk masjid. Ramzan berasal dari Bangladesh. Dia telah tinggal di Jepang tiga dekade lalu.

Ramzan pun membuka usaha di sekitar banguan yang kini menjadi masjid. Di daerah itu, terdapat banyak perusahaan yang bergelut pada bisnis mobil bekas, dan secara bertahap kini semakin banyak umat Muslim dari berbagai negara menempati daerah itu.

“Bisnis saya telah stabil, jadi saya memutuskan ingin membuat ruang yang bisa membantu umat Islam di sini,” kata Ramzan seperti dilansir the Mainichi pada Selasa (3/12).

Sementara Muslim lainnya, Muhammad Ali (37 tahun), yang juga berasal dari Bangladesh telah tinggal di Jepang sejak enam tahun lalu. Ali juga bekerja di perusahaan penjualan mobil bekas di Kyoto.

“Saya pulang ke negara saya setahun sekali, sangat jauh dari istri dan anak-anak tapi saya merasa lebih tenang bisa datang ke tempat ini, dekat rumah saya,” katanya.

Khalid Sultan (30 tahun) juga bekerja di perusahaan yang sama. Ia berasal dari Suriah.

Sultan datang ke Jepang tujuh tahun lalu bersama saudara laki-lakinya yang berusia 25 tahun. Keduanya melarikan diri ke Jepang lantaran konflik perang saudara di negaranya.

Sementara mayoritas keluarganya memilih tinggal di Turki.

“Menyedihkan, tetapi saya tak bisa kembali ke negara saya. Namun bila saya bertemu dengan teman-teman saya di sini, masalah itu hilang,” kata Sultan.

Sebelum Masjid IRC Jepang dibuka, umat Muslim di wilayah itu harus naik kereta hampir dua jam untuk ke Masjid Muslim di Kobe tepatnya di kota Kobe Prefektur Hyogo.

Sementara Mirza pun berencana mendaftarkan Masjid IRC Yawata sebagai pusat keagamaan dan juga menjadikannya sebagai pusat penelitian Islam melalui kerjasama dengan Universitas Jepang.

Untuk diketahui, Masjid pertama yang berdiri di Jepang adalah Masjdi Muslim Kobe.

Masjid ini didirikan pada 1935 oleh warga Turki dan India. Menurut penelitian profesor Tanada, hanya ada tiga masjid di Jepang pada akhir 1980-an.

Namun pada paruh dekade kedua, banyak orang-orang Muslim yang datang dari Iran, Pakistan, Bangladesh, dan lainnya datang ke Jepang.

Ada yang menjadi buruh dan banyak juga yang bekerja di sektor bisnis konstruksi dan lainnya.

Setelah itu, ada gelombang kedatangan para trainer dan pekerja dari Indonesia dari 1990 dan 2000-an, bersamaan dengan itu terjadi peningkatan jumlah Masjid.

Pada waktu itu jumlah pelajar dan yang mengikuti pelatihan  dari berbagai daerah mayoritas Muslim pun meningkat.

Tercatat pada 2014 hanya ada 80 masjid, jumlahnya melonjak pada 2018 menjadi 105 masjid.

Dulu, kebanyakan Muslim yang datang dari berbagai negara itu berada di daerah pusat industri, seperti Tokyo, daerah metropolitan Chukyo di sekitar Nagoya di Prefektur Aichi, hingga Kansai.

Namun baru-baru ini terjadi peningkatan jumlah Muslim terutama di kalangan mahasiswa yang tinggal di ibu kota prefektur.

Profesor Tanada memperkirakan ada sekitar 200 ribu Muslim tinggal di Jepang. Di mana 43 ribu diantaranya berkebangsaan Jepang termasuk mereka yang pindah agama untuk menikah dengan seorang Muslim.

Seperti Masjid terbesar di Jepang yakni Tokyo Camii di ibukota Shibuya Ward, tercatat ada sekitar 700 hingga 800 orang yang datang ke masjid itu untuk melakukan shalat Jumat.

Jamaah berasal dari berbagai negara di Asia tenggara, Arab dan negara-negara Afrika. Masjid ini juga mempunyai kelas Alquran dan Arab.

“Orang-orang mukmin datang dari seluruh Kanto seperti halnya turis dari negara-negara Islam. Bagi umat Muslim, ini seperti tempat berlindung,” kata kepala Humas Muslim Jepang, Shigeru Shimoyama.

Sumber: republika.co.id

Pertama Kali, Nama ‘Muhammad’ Masuk Daftar 10 Nama Bayi Teratas di Amerika

Pertama Kali, Nama ‘Muhammad’ Masuk Daftar 10 Nama Bayi Teratas di Amerika

Untuk pertama kalinya, Muhammad masuk ke dalam daftar 10 nama bayi paling populer untuk anak laki-laki di Amerika Serikat (AS).
Nama Muhammad ada di peringkat 10 atau naik empat peringkat dari tahun lalu.

Seperti dilansir CNN, Sabtu (7/12/2019), data ini dikeluarkan situs pengasuhan BabyCenter.

Nama Muhammad terus naik peringkatnya selama bertahun-tahun dan pertama masuk 100 besar di tahun 2013.

“Keluarga Muslim sering memilih Muhammad untuk putra sulung untuk menghormati nabi dan membawa berkah bagi anak itu,” kata pemimpin redaksi global BabyCenter, Linda Murray, dalam rilis berita.

“Nama itu juga memiliki beberapa ejaan, dan itu membantu sebuah nama masuk ke dalam 10 besar,” imbuhnya.

Posisi teratas, nama Liam jadi yang terpopuler untuk anak laki-laki. Liam menggeser Jackson yang telah enam tahun berturut-turut ada di posisi nomor satu.

Sementara Sophia tetap jadi nama yang paling sering dipakai untuk bayi perempuan. Sophia sudah bertahan selama satu dekade sebagai pilihan pertama orang tua di AS untuk bayi perempuan mereka.

BabyCenter mengatakan datanya berasal dari hampir 600.000 orang tua yang berbagi nama bayi mereka dengan organisasi pada tahun 2019.

Peringkatnya juga menggabungkan nama-nama yang terdengar sama tetapi memiliki banyak ejaan (seperti Mohammad dan Muhammad).

Administrasi Jaminan Sosial juga membuat peringkat popularitas nama-nama bayi menggunakan catatan semua bayi yang lahir di AS, tetapi agensi memperlakukan setiap ejaan unik sebagai nama yang terpisah.

Agensi belum merilis daftar sendiri, tetapi data Jaminan Sosial menunjukkan Muhammad naik dari peringkat 620 pada tahun 2000 menjadi peringkat 345 pada tahun 2018. Agensi tersebut tidak memasukkan beragam ejaan dalam peringkat itu.

Nama-nama asal Arab sedang meningkat, menurut BabyCenter. Di saat nama Muhammad masuk ke 10 besar untuk anak laki-laki, Aaliyah ada di posisi 10 besar untuk anak perempuan.

Isla, nama Skotlandia, juga naik 38 peringkat dari tahun lalu. Eleanor dan Miles tercatat jadi nama dengan kenaikan tercepat kedua.

Berikut 10 nama bayi teratas untuk anak laki-laki dan perempuan tahun ini, menurut peringkat BabyCenter:

Nama terpopuler untuk anak laki-laki:


  1. Liam
  2. Jackson
  3. Noah
  4. Aiden
  5. Grayson
  6. Caden
  7. Lucas
  8. Elijah
  9. Oliver
  10. Muhammad

Nama paling populer untuk anak perempuan:


  1. Sophia
  2. Olivia
  3. Emma
  4. Ava
  5. Aria
  6. Isabella
  7. Amelia
  8. Mia
  9. Riley
  10. Aaliyah


Sumber: detik.com

Apakah Ruh Akan Kembali ke Tubuh Saat Pertanyaan Kubur?

Apakah Ruh Akan Kembali ke Tubuh Saat Pertanyaan Kubur?

Saat malaikat memberi pertanyaan kubur, apakah ruh kembali masuk ke jasad?
Kedatangan malaikat Izrail untuk mencabut nyawa (ruh) merupakan simbol kematian. Tak heran hampir kebanyakan orang mengimajinasikan Malaikat Izrail sebagai malaikat yang ‘menyeramkan’, sebab kebanyakan orang takut mengalami kematian (terbukti dengan doa yang dipanjatkan adalah meminta diberi umur yang panjang).

Manusia akan mengalami kematian saat ruh terpisah dari jasad/badan melalui cabutan malaikat Izrail atas perintah Allah. Lalu, jika ruh telah terpisah dari tubuh, maka apakah ruh akan kembali ke badan ketika malaikat Munkar dan Nakir memberikan ‘pertanyaan kubur’?

Ada dua pendapat mengenai pertanyaan ini. Pendapat pertama menyatakan bahwa ruh tidak mungkin kembali ke tubuh (jasad) sebelum hari kiamat. Pendapat ini disampaikan oleh Abu Muhammad bin Hazm (seorang Ulama’ dari Spanyol dan masyhur dengan sebutan Ibn Hazm) di dalam Kitab al-Milal wa an-Nahl. Dalil yang dipegang oleh Muhammad bin Hazm adalah ketiadaan mayat yang bisa hidup di dalam kubur.

Pendapat pertama tersebut ditentang oleh pendapat kedua yang menyatakan bahwa ruh kembali tubuh (jasad) untuk menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir. Pendapat ini dipegang oleh Ahlus Sunnah dengan dalil hadis Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah, dan Abu ‘Awanah al-Isfiroiny dalam kitab sahihnya sekaligus hadis ini disahihkan oleh Imam Hakim:

Dari Barra’ bin ‘Azib, diceritakan bahwa suatu hari Barro’ mengantarkan jenazah Sahabat Nabi Muhammad di pekuburan Baqi’ al-Qharqad. Kemudian Nabi Muhammad mendatanginya lalu duduk dan Barra’ (beserta Sahabat lainnya) ikut duduk dengan khidmat seakan-akan ada burung yang hinggap di atas kepala sembari menunggu liang lahat digali.

Setelah penguburan siap, Nabi Muhammad berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari siksa kubur” sebanyak tiga kali; lalu Nabi Muhammad berkata lagi, “Sesungguhnya seorang hamba yang beriman ketika telah waktunya menghadap ke akhirat dan meninggalkan dunia, maka para malaikat dengan wajah yang bersinar seperti sinar matahari akan turun untuk menemuinya. Para malaikat tersebut membawa kain kafan dan parfum dari surga, kemudian sejauh mata memandang (saking banyaknya), mereka duduk di sekitar hamba tersebut.

Setelah itu, Malaikat Maut turun dan mengambil posisi di arah kepala orang beriman tersebut, sembari berkata ‘Wahai jiwa yang mulia, keluarlah menuju ampunan Allah dan ridho-Nya’. Ruh tersebut keluar dengan mudah dari tubuhnya layaknya air yang mengalir dari mulut sebuah kendil, kemudian ruh tersebut diambil oleh malaikat maut dan dalam waktu sekejap diserahkan kepada para malaikat dengan wajah bersinar untuk dibungkus dengan kafan dan parfum dari surga.

Saat itulah, tercium bau paling harum yang pernah ada di muka bumi. Ruh dengan kafan dan parfum dari surga tersebut diangkat ke langit dan setiap melewati golongan malaikat akan muncul pertanyaan ‘Nyawa siapakah yang amat mulia tersebut?’, lalu dijawab bahwa ini adalah ruh Fulan bin Fulan sesuai dengan nama terbaik yang digunakan di dunia.

Sesampainya di langit dunia, para malaikat pengantar meminta izin untuk memasukinya dan diberikan izin. Seluruh malaikat yang ada di langit tersebut ikut mengantarkannya menuju lapisan langit berikutnya hingga sampai di langit yang paling tinggi, lalu Allah berkata ‘Tulislah nama hambaku ini di ‘Illiyyin, lalu kembalikan ia ke bumi (jasad-nya). Sebab dari-nya (bumi) Aku ciptakan mereka (manusia), pada-nya Aku kembalikan mereka, dan dari-nya akan Kubangkitkan mereka’.

Ruh mulia tersebut dikembalikan lagi ke tubuhnya di bumi yang disusul dengan kedatangan dua malaikat yang memerintahkan ruh tersebut untuk duduk. Dua malaikat tersebut memberikan pertanyaan-pertanyaan (mulai dari ‘Siapa Tuhanmu? Dan sebagainya’) dan mampu dijawab dengan benar semuanya. Tetiba terdengan suara dari langit yang berseru ‘Hamba-Ku benar! Hamparkanlah surga untuknya, pakaikan pakaian dari surga untuknya, dan bukakan pintu ke arah surga!’ Kemudian berhembus angin yang segar dengan aroma surgawi serta kuburnya diluaskan sepanjang mata memandang.

Kala itu, datang seorang pemuda asing dengan wajah terlampau tampan yang mengenakan pakaian indah dan beraroma harum. Pemuda itu berkata, ‘Bergembiralah, sebab hari ini adalah hari yang telah dijanjikan kepadamu’. Sang mu’min bertanya, ‘Siapakah Engkau? Wajahmu melambangkan kebaikan’. Dijawab oleh pemuda, ‘Aku adalah amal salehmu’. Sang mu’min pun berdoa, ‘Wahai Tuhanku, segeralah datangkan kiamat agar Aku bisa segera berjumpa dengan keluargaku dan hartaku’”…. (perkataan Nabi Muhammad selanjutnya menceritakan tentang ruh orang kafir).

Hadis ini menunjukkan bahwa ruh akan kembali lagi ke jasad (tubuh) untuk menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir, tetapi Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab ar-Ruh menyebutkan bahwa pengembalian ruh bukan kategori pengembalian yang sempurna. Pengembalian ruh secara sempurna akan terjadi pada hari kiamat. (AN)

Wallahu A’lam.

Sumber : islami.co

Nabi Ditanya, Mengapa Perempuan Jarang Disebutkan dalam al-Qur’an? Ini Jawabannya

Nabi Ditanya, Mengapa Perempuan Jarang Disebutkan dalam al-Qur’an? Ini Jawabannya

Akhir-akhir ini, gerakan penyetaraan gender semakin digaung-gaungkan oleh berbagai kalangan, dari mulai para feminis hingga ibu rumah tangga.
Namun apabila kita telisik lebih dalam lagi, upaya penyetaraan gender sesungguhnya telah muncul sejak masa Nabi SAW.

Sebelum Islam datang, Bangsa Arab dikenal sebagai penyembah berhala yang berkelakuan amoral. Oleh sebab itulah masa itu disebut jahiliyah.

Philip K. Hitti mendefinisikan masa jahiliyah sebagai masa di saat masyarakat tidak memiliki nabi tertentu yang diutus dan memimpin, serta tidak memiliki kitab suci khusus yang diwahyukan dan menjadi pedoman hidup (Philip K. Hitti, 2005).

Salah satu prilaku jahiliyah mereka adalah ketidakadilan pada perempuan. Bayi-bayi perempuan dikubur hidup-hidup karena dianggap aib bagi keluarga.

Perempuan dianggap lemah dan hanya bisa menjadi beban ekonomi keluarga.

Kalaupun bayi perempuan terbebas dari maut, mereka akan hidup dalam kesengsaraan. Tidak diakui hak-haknya, tidak mendapatkan warisan dan justru diwariskan seperti barang.

Namun Islam datang membawa misi pembebasan bagi manusia, termasuk pembebasan perempuan dari segala bentuk diskriminasi dan ketidakadilan.

Islam menjunjung tinggi hak-hak perempuan, serta mengangkat harkat dan martabat mereka.

Di samping misi mulia Islam, kita perlu meningat pula bahwa mengubah keadaan yang telah melekat turun-temurun tak semudah membalikkan telapak tangan.

Coba kita ingat kembali bagaimana larangan meminum khamr diturunkan secara bertahap. Juga upaya Islam menghapuskan perbudakan manusia secara perlahan.

Begitu pula upaya menghapuskan ketidakadilan bagi perempuan, sungguh tak mudah mengubah pola pikir yang telah mengakar dari nenek moyang.

Meskipun demikian, pembelaan Islam terhadap hak-hak perempuan merupakan kemajuan pesat dibandingkan perlakuan masyarakat Arab jahiliyah kala itu.

Upaya penyetaraan hak antara laki-laki dan perempuan tidak hanya diperintahkan oleh Allah dan dicontohkan oleh Nabi, tapi juga didukung para sahabat perempuan.

Salah satu sahabat perempuan yang cukup lantang dalam menyuarakan hak-hak perempuan adalah Ummu Umarah.

Dalam sunan at-tirmidzi, musnad Ishaq bin Rohawaih dan al-Mu’jam al-Kabir li Thabrani, disebutkan hadis tentang Ummu Umarah yang bertanya kepada Rasulullah SAW.

يَا رَسُولَ اللَّهِ, مَا أَرَى كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا لِلرِّجَالِ , لَا أَرَى لِلنِّسَاءِ ذِكْرًا
“Ya Rasulullah, tidaklah aku lihat segala sesuatu melainkan diperuntukkan untuk laki-laki, dan setahuku kaum perempuan tidak disebutkan sama sekali.”

Maka Allah SWT kemudian berfirman surah al-Ahzab ayat 35:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
Dalam riwayat lainnya, disebutkan bahwa Ummu Salamah juga pernah mengutarakan kegelisahan yang sama. Dari Abdurrahman bin Syaibah, ia mendengar Ummu Salamah bertanya kepada Nabi SAW:

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَنَا لَا نُذْكَرُ فِي الْقُرْآنِ، وَيُذْكَرُ الرِّجَالُ
“Ya Rasulullah, mengapa kami (kaum perempuan) tidak (amat jarang) disebutkan dalam al-Qur’an, sedangkan laki-laki (selalu) disebut-sebut?”

Setelah mengutarakan kegelisahannya pada Rasulullah, Ummu Salamah kemudian berkata:

“Tidak ada yang paling mengejutkanku di hari itu kecuali suara Rasulullah di atas mimbar. Ketika itu aku sedang menyisir rambut, aku langsung membenahi rambutku lalu keluar menuju suatu ruangan dan mendengarkan (khutbah Nabi).”

Ternyata beliau berkata di atas mimbar:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ: إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
Hadis ini tercantum dalam beberapa kitab, diantaranya Musnad Ishaq bin Rahawaih, Musnad Ahmad, dan al-Jami’ ash-shahih lissunan wal masanid karya Suhaib Abdul Jabbar.

Peristiwa ini menggambarkan upaya para sahabat perempuan dalam menjunjung hak dan kesetaraan gender. Mereka tak takut menyuarakan pikiran dan isi hatinya kepada Nabi.

Peristiwa ini juga membuktikan bahwa Islam begitu menjunjung tinggi hak-hak perempuan. Bahkan Allah SWT dan Nabi SAW begitu cepat merespon suara perempuan yang mengadukan isi hatinya.

Ketika Nabi ditanya: “Mengapa perempuan jarang disebutkan dalam Al-Qur’an?”

Allah SWT langsung menurunkan ayat yang menyebutkan perempuan.

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah SWT tidak melihat hambanya dari jenis kelamin semata, melainkan dari iman dan takwanya.

Terlebih dalam khutbahnya Nabi juga memperingatkan seluruh manusia (يَا أَيُّهَا النَّاسُ) untuk memperhatikan ayat ini, tanpa terkecuali, baik laki-laki maupun perempuan.

Ini artinya, kesetaraan gender memang harus diperjuangkan oleh siapapun, bukan hanya para perempuan saja. Karena Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi keadilan dan persamaan.

Wallahu a’lam bisshawab

Sumber: islami.co

Sifat dan Sosok Israfil, Malaikat Peniup Sangkakala

Sifat dan Sosok Israfil, Malaikat Peniup Sangkakala

Abu al-Farj Jamaluddin Ibn Jauziy dalam kitab Bustanul Wa’izhin wa Riyadh al-Sami’in menjelaskan tentang bagaimana sifat dan sosok Malaikat Israfil, malaikat yang bertugas meniup sangkakala sebagai tanda bahwa hari kiamat tiba.
Israfil As adalah malaikat yang sangat besar. Satu syapnya ada di timur dan satu lagi ada di barat. Kakinya berada di lapisan ketujuh bumi yang paling bawah yang jaraknya lima ratus tahun perjalanan. Sementara itu, tujuh lapis langit hanya sampai kedua lututnya. Lehernya merunduk di bawah Arsy Allah, sementara itu Ars yada di pundaknya. Ia membentangkan kaki kanannya dan mengundurkan kaki kirinya.

Sementara itu Lauh Mahfudz berada di depan matanya, ia menyandang sangkakala dan panadngannya selalu melirik kea rah Arsy, telinganya selalu waspada mendengar perintah Allah untuk meniup sangkakala. Sementara sangkalala ada;ah sebentuk tanduk yang terbuat dari cahaya.

Dalam sebuah hadis disebutkan

الصور قرن من نور، والذي نفسي بيده إن أعظم ثارة فيه كما بين السماء والأرض

Artinya; Sangkakala itu sebentuk tanduk yang terbuat dari cahaya. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya gemuruh suara yang terbesar di dalamnya seperti gemurh suara di antara langit dan bumi.

Ibnu Jauzi menerangkan bahwa ia tidak menemukan riwayat dengan lafal seperti di atas, hanya saja terdapat hadis riwayat Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi dari Abdullah Ibn Amr ibn Ash bahwa nabi bersabda, “Sangkakala adalah tanduk.” Hadis ini dinilai shahih oleh Imam Albani dalam Silsilatus Shahih.

Diriwayatkan bahwa ketika sangkala ditiup bersamaan dengan angin yang bertiup kencang, karenanya setiap ada angin kencang nabi merasa takut dan tidak tenang.  Dalam riwayat Imam Tirmidzi lainnya diterangkan

عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: كيف أنعم وصا حب الصور قد التقم الصور ومنى جبحته وشخص للصره نحو العرض وأنصت بإذنيه ينتظر متى يؤمر أن ينفخ في الصور

Nabi bersabda, “Bagaimana aku merasa tenang, padahal pengusung sangkakala tengah menempelkan sangkakala itu di mulutnya dan menundukkan keningnya, memusatkan padanangan kea rah Arsy, memasang kedua telinganya untuk mendengar kapan ia diperintahkan untuk meniup sangkakala tersebut.” (HR. Tirmidzi)

Akibat kerasnya suara tiupan sangkakala Israfil, bumi bergoncang dari timur ke barat semua menjadi binasa. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali Allah (QS. Al-Qashash; 88) Dalam kitab tafsir disebutkan, bahwa segala sesuatu itu rusak dan binasa kecuali amal yang diniatkan untuk mencari ridha Allah.

Sumber : bincangsyariah.com

Agar Rasa Syukur Kita Sempurna, Ini yang Harus Dihayati

Agar Rasa Syukur Kita Sempurna, Ini yang Harus Dihayati

Orang yang bersyukur senantiasa menisbatkan setiap nikmat yang didapatnya kepada Allah. Ia senantiasa menyadari bahwa hanya atas takdir dan rahmat Allah semata lah nikmat tersebut bisa diperoleh. Sedangkan orang yang kufur nikmat senantiasa lupa akan hal ini.
Sungguh aneh jika ada orang yang mengaku bersyukur, ia menyadari segala yang ia miliki semata-mata atas keluasan rahmat Allah, namun di sisi lain melalaikan perintah Allah dan melanggar larangan-Nya. Amatlah jauh antara pengakuan dan kenyataan.

Padahal rasa syukur itu ditunjukkan dengan jalan ketakwaan. Dalam hal ini selaras dengan pernyataan Imam Sahl Bin Abdillah dalam kitab Al Munir, yaitu:

وَالشُّكْر ِللهِ هي الإجْتِهَاد فِي بَذْلِ الطَّاعَةِ مَعَ الإجْتِنَابِ لِلْمَعْصِيَّةِ فِي السَّرِّ وَالْعَلاَنِيَةِ

Syukur kepada Allah ialah bersungguh-sungguh memusatkan segala perhatian mentaati Allah dan menjauhi ma’shiat baik dikala rahasia maupun terang-terangan

Lantas seperti apakah kesempurnaan syukur itu? Dikatakan dalam kitab Mauidzatul Mu’minin bahwa mengetahui untuk apa Allah menciptakan kemudian kita gunakan untuk sesuatu yang Allah suka adalah syukur yang sempurna.

Alhasil, kesempurnaan syukur menuntut manusia untuk menggunakan apa-apa yang dianugerahkan oleh Allah dengan semestinya. Dengan apa yang disukai Allah, bukan yang disukai kita. Cuplikan dari pembahasan kesempurnaan syukur adalah sebagai berikut:

إن فعل الشكر لا يتم الأ بمعرفة ما يحبه الله تعالى عما يكرهه

Syukur itu tidak sempurna kecuali dengan mengetahui untuk apa Allah mencincptakan, lalu kita pakai sesuai apa yang disukai-Nya, bukan untuk yang tidak disukai-Nya.

Langkah awal untuk menyempurnakan syukur adalah mencari tahu untuk apa Allah menciptakan. Misal saja Allah menciptakan telinga untuk mendengar. Iya telinga untuk mendengar, tapi kita gunakan untuk apa?

Orang yang sudah sampai pada titik kesempurnaan syukur akan menggunakan telinganya untuk hal-hal yang disukai Allah, misalnya mendengarkan murattal Al Qur’an atau podcast pengajian tafsir Al Qur’an.

Telinga memang bisa digunakan untuk mendengarkan hal-hal lain yang lebih disukai oleh kaum manusia, seperti mendengarkan musik atau rekaman audio recording lainnya yang jelas membawa kepala berangguk-angguk.

Namun sekali lagi ditegaskan bahwa kesempurnaan syukur itu hadir ketika kita menggunakan nikmat itu sesuai dengan apa yang Allah suka, bukan yang manusia suka.

Dari sini kita bisa membedakan mana yang syukur biasa dan mana syukur yang sempurna.  Meskipun berat dan tidak mudah, semoga kita bisa beralih sedikit demi sedikit menuju syukur yang sempurna.

Sumber : bincangsyariah.com

Sejak 107 Tahun yang Lalu, Azan Kembali Dikumandangkan di Masjid Kuno Makedonia Utara

Sejak 107 Tahun yang Lalu, Azan Kembali Dikumandangkan di Masjid Kuno Makedonia Utara

TURKI–Untuk pertama kalinya sejak 1 abad lebih, tepatnya 107 tahun, Azan kembali dikumandangkan di sebuah masjid kuno di Makedonia Utara dalam.
Menara masjid kuno, Masjid Ali Pasha di Kota Ohrid, Makedonia Utara dihancurkan dalam Perang Balkan yang berlangsung antara 1912-1913.

Masjid Ali Pasha di Kota Ohrid yang sempat hancur ini, telah direnovasi oleh Direktorat Urusan Agama Pemerintah Turki.

Pemerintah Turki memang terkenal aktif membangun kembali masjid-masjid tua yang sudah hancur di berbagai belahan dunia.

Presiden Recep Tayyip Erdogan sering mempelopori upaya perbaikan masjid-masjid.

Proyek yang diluncurkan untuk memperbaiki Masjid Ali Pasha dan menaranya menelan biaya $2,5 juta atau Rp35.208.000.000.

Meski biaya cukup tinggi, namun masjid kuno itu sangat berharga karena memiliki nilai sejarah.

Sekarang untuk pertama kalinya sejak Perang Balkan, azan mulai dikumandangkan lagi di masjid.

Masjid Ali Pasha dibangun pada 1573 atas perintah penguasa Kekaisaran Ottoman Turki. Oleh karena itu Turki bersemangat untuk memperbaiki masjid bersejarah ini. []

SUMBER: ABNA

Para Pendosa Yang Menangisi Dosanya Lebih Dicintai Allah Daripada Ahli Dzikir Yang Membanggakan Amalnya

Para Pendosa Yang Menangisi Dosanya Lebih Dicintai Allah Daripada Ahli Dzikir Yang Membanggakan Amalnya

Ketika seseorang ibadah kepada Allah maka ia tertuntut untuk ikhlas, benar dalam mengerjakannya, mencintai ibadah itu, menyadari nikmat Allah pada ibadah yang ditegakkannya, mengakui ada ketidaksempurnaan ibadahnya, dan tidak ada jaminan ibadah itu diterima.
Saat ia mampu beribadah maka ia terancam tidak ikhlas, menyelisihi sunnah, lupa nikmat, merasa diri hebat, dan sudah memberikan hak Allah sehingga merasa Allah ‘wajib’ menerima dan memberinya pahala. Ini sikap tidak baik pada orang yang lupa diri. Ini sangat berbeda dengan orang-orang shalih yang diabadikan dalam Al-Qur’an.

Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman,

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mukminun: 60)

Maksudnya: mereka senantiasa mengeluarkan sedekah, infak, nafkah, dan bantuan-bantuan. Kondisi hati mereka dengan banyaknya amal-amal terebut dipenuhi rasa takut. Yaitu takut kalau Allah tidak menerima amal-amal mereka.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘Anha berkata, “Aku telah bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam tentang ayat ini, apakah mereka orang-orang yang minum khamer, pezina, dan pencuri? Beliau menjawab, “Tidak, wahai putri al-Shiddiq. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, menunaikan shalat dan shadaqah namun mereka takut kalau amalnya tidak diterima.” (HR. Tirmidzi)

Oleh sebab itu, siapa yang mendapatkan taufiq dari Allah untuk beramal shalih janganlah ia memandang dirinya sebagai manusia suci yang pasti selamat dari neraka dan terjamin surga. Akibatnya, lemah isti’anah dan tawakkal kepada Allah. Diikuti keleemahan rasa takut terhadap rencana tersembunyi (makar) Allah terhadap dirinya. Juga lemah roja’ (pengharapan) kepada ampunan dan rahmat-Nya.

Ujub (bangga diri) dengan amal melahirkan kesombongan sehingga memandang rendah orang yang tidak beramal seperti amalnya. Boleh jadi orang-orang tersebut lebih dekat kepada Allah dengan amal lain.

Al-‘Allamah Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Rahimahullah berkata,

“Jika Allah Ta’ala membukakan untukmu pintu (memudahkan) shalat malam, jangan memandang rendah orang yang tertidur. Jika Allah membukakan untukmu pintu puasa (sunnah), janganla memandang rendah orang yang tak berpuasa. Dan jika Allah membukakan untukmu pintu jihad, maka jangan memandang rendah orang yang tak berjihad. Sebab, bisa saja orang yang tertidur, orang yang tidak berpuasa (sunnah) dan orang yang tak berjihad itu lebih dekat kepada Allah ketimbang dirimu.”

Kemudian beliau melanjutkan,

“Sungguh, engkau ketiduran sepanjang malam lalu menyesal di waktu pagi, lebih baik daripada melewati malam dengan ibadah tapi merasa bangga di pagi hari. Itu karena orang yang sombong, amalannya tidak akan naik ke sisi Allah.” (Madarij As-Salikin: 1/177).

Orang yang menangis sambil mengakui dosa dan kekurangan dirinya itu lebih baik daripada orang yang tertawa sambil merasa diri sebagai orang shalih.

Para pendosa yang menangisi dosanya lebih dicintai Allah daripada tukang dzikir yang membanggakan amalnya. Karena boleh jadi, Allah akan memberikan obat atas penyakit dosanya. Sedangkan orang yang berbangga tersebut meninggal di atas ujub dan kesombongannya sementara ia tidak mengetahuinya. Naudzubillah min dzalik.

Sumber : kabarmakkah.com

Perbanyak Zikir saat Senang, Allah Mudahkan Terkabulnya Doa di Kala Susah

Perbanyak Zikir saat Senang, Allah Mudahkan Terkabulnya Doa di Kala Susah

Dalam kitab al-Adzkar, Imam Nawawi menjelaskan bahwa Rasulullah menghimbau umatnya agar tidak berdoa kepada Allah hanya di saat kesusahan saja. Tapi hendaknya doa dilakukan secara istiqamah, baik di saat senang atau sedih.
Sebab memperbanyak zikir dan berdoa di kala senang akan mempermudah terkabulnya doa ketika tertimpa kesusahan dan musibah. Sebagaimana dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi dari Ibu Hurairah dari Nabi Saw bahwa beliau bersabda,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِيبَ اللَّهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَالكَرْبِ فَلْيُكْثِرِ الدُّعَاءَ فِي الرَّخَاءِ

“Siapa yang ingin dikabulkan oleh Allah Swt ketika tertimpa kesulitan dan kesusahan, hendaknya memperbanyak doa ketika senang.” (HR. Tirmidzi)

Dalam hadis lainnya dengan redaksi berbeda Rasulullah juga mengatakan, bahwa jika kita mengingat Allah di saat senang maka Allah akan mengingat kita di saat sempit. Hadis ini merupakan nasehat agar umat Islam selalu mengingat Allah kapanpun dan tidak hanya meminta pertolongannya hanya saat tertimpa kesulitan. Hal ini yang juga Allah peringatkan dalam firman-Nya

وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُ مُنِيبًا إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُ نِعْمَةً مِنْهُ نَسِيَ مَا كَانَ يَدْعُو إِلَيْهِ مِنْ قَبْلُ

Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu. (QS. Az-Zumar; 8)

Rasulullah pun sosok yang selalu berdoa baik dalam keadaan lapang atau sempit. Banyak doa-doa yang Rasulullah baca setiap waktu, tidak terbatas pada keadaan tertentu. Menurut Imam Nawawi, di antaranya doa yang sering dipanjatkan oleh Nabi Muhammad Saw. adalah doa yang berasal dari hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim dari Anas ra. bahwa dia berkata; ” Doa yang sering diucapkan Nabi Saw adalah

اللهم آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

Allahumma aatinaa fid dunyaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah wa qinaa ‘adzaaban naar

“Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami dalam kehidupan dunia kebaikan dan dalam kehidupan akhirat kebaikan  dan jauhkanlah kami dari api neraka” (HR. Bukhari & Muslim)

Sumber : bincangsyariah.com

Ragu Status Wudu Batal Atau Tidak, Apa yang Mesti Dilakukan?

Ragu Status Wudu Batal Atau Tidak, Apa yang Mesti Dilakukan?

WUDU atau bersuci merupakan tahapan yang wajib dikerjakan sebelum Muslim melaksanakan salat. Namun setelah wudu selesai, terkadang seorang umat meragukan status wudunya karena sesuatu hal. Jika demikian, apa yang harus dilakukan?
Dilansir dari laman Lirboyo pada Rabu (27/11/2019), dalam keadaan penuh dilema, maka wudu tersebut tidak dihukumi batal sehingga boleh melajutkan ibadah. Alasannya adalah karena yang ia meyakini keadaan suci.

Sementara keraguan akan membatalkan wudu yang sebatas asumsi tidak dapat menghilangkan keyakinan sebelumnya.

Imam Abu Ishaq as-Syirazi (w. 1083 H) menegaskan dalam kitab al-Muhadzdzab:

وَمَنْ تَيَقَّنَ الطَّهَارَةَ وَشَكَّ فِي الْحَدَثِ بَنَى عَلَى يَقِيْنِ الطَّهَارَةِ لِأَنَّ الطَّهَارَةَ يَقِيْنٌ فَلَا يُزَالُ ذَلِكَ بِالشَّكِّ وَإِنْ تَيَقَّنَ الْحَدَثَ وَشَكَّ فِي الطَّهَارَةِ بَنَى عَلَى يَقِيْنِ الْحَدَثِ لِأَنَّ الْحَدَثَ يَقِيْنٌ فَلَا يُزَالُ بِالشَّكِّ

“Seseorang yang yakin suci dan ragu dengan hadas, maka ia menetapkan keyakinan sucinya. Karena keyakinan akan hukum suci tidak dihilangkan dengan keraguan hadas. Begitu pula seseorang yang yakin hadas dan ragu dengan kesuciannya, maka ia menetapkan keyakinan hadasnya. Karena keyakinan akan hukum hadas tidak dihilangkan dengan keraguan suci.”( Al-Muhadzdzab, Vol. I halaman 53).

Sementara itu ada juga kaidah fikih:

اَلْيَقِيْنُ لَا يُزَالُ بِالشَّكِّ

“Keyakinan tidak dapat dihilangkan dengan keraguan”. ( Al-Asybah wa an-Nadhair, Halaman 7).

Lebih lanjut dalam artikel sebelumnya dibahas bahwa air yang bisa dipakai untuk wudu adalah air suci. Dalam artikel ini, Madzhab Syafi'i membagi air menjadi empat kategori. Antara lain air suci dan menyucikan, air musyammas, air suci namun tidak menyucikan, dan air mutanajis.
1. Air suci dan menyucikan

Air suci dan menyucikan adalah jenis air mutlak yang sumbernya berasal dari langit (hujan) serta sifatnya tidak berubah. Air ini bisa untuk bersuci.


2. Air musyammas

Air musyammas adalah air yang dipanaskan di bawah terik sinar matahari dengan menggunakan wadah yang terbuat dari logam selain emas dan perak, seperti besi atau tembaga. Air ini hukumnya makruh untuk bersuci atau wudu.

3. Air suci namun tidak menyucikan

Jenis air ini terbagi ke dalam dua bagian, yaitu air musta'mal dan air mutaghayar. Musta'amal adalah air yang telah digunakan untuk bersuci, baik untuk menghilangkan hadas (wudhu dan mandi).

Sedangkan air mutaghayar, yaitu air yang mengalami perubahan dan salah satu sifatnya disebabkan tercampur dengan barang suci lainnya sehingga hilang kemutlakannya. Akibatnya air ini tak bisa untuk bersuci.

4. Air mutanajis

Air mutanajis adalah air yang terkena barang najis, di mana volumenya kurang dari dua qullah atau volumenya mencapai dua qullah sehingga sifat airnya berubah, seperti bau, rasa beda, dan warnanya pun berubah. Jenis air ini tidak bisa digunakan untuk bersuci

Sumber : https://muslim.okezone.com/read/2019/11/27/330/2135000/ragu-status-wudu-batal-atau-tidak-apa-yang-mesti-dilakukan?

Salah Menghadap Kiblat, Apakah Shalat Harus Diulang?

Salah Menghadap Kiblat, Apakah Shalat Harus Diulang?

Menghadap kiblat merupakan syarat sah shalat yang disepakati oleh ulama empat mazhab. Oleh karena itu, orang yang tubuhnya tidak menghadap kiblat saat shalat itu tidak sah. Namun bagaimana jika misalnya kita sedang berada di luar kota, dan ternyata tuan rumah salah menunjukkan arah kiblat, padahal kita sudah selesai shalat, apakah kita harus mengulang shalat? Terdapat dua perincian mengenai permasalahan keliru menghadap kiblat saat shalat.
Pertama, orang yang keliru menghadap kiblat tanpa terlebih dahulu bertanya atau berijtihad menggunakan kompas atau teknologi pencari kiblat tentu shalatnya tidak sah. Hal ini sebagaimana pendapat yang disampaikan Imam Ibnu Abdil Bar berikut dalam kitab al-Istidzkar.

وأجمعوا أن من صلى من غير اجتهاد ولا طلب للقبلة ثم بان له أنه لم يستقبل جهتها في صلاته أن صلاته فاسدة، كمن صلى بغير طهارة يعيدها في الوقت وغيره. وفي هذا المعنى حكم من صلى إلى غير القبلة في مسجد يمكنه فيه طلب القبلة وعلمها ووجودها بالمحراب وشبهه ولم يفعل وصلى إلى غيرها

Ulama bersepakat bahwa orang yang shalat tanpa berijtihad dan mencari arah kiblat, kemudian diketahui kemudian ia keliru menentukan arah kiblat itu shalatnya tidak sah. Ini sama saja seperti seseorang yang shalat tanpa bersuci (wudhu atau tayamum) terlebih dahulu. Karena itu, ia diwajibkan mengulangi shalat saat itu juga atau di lain waktu. Hal ini juga berlaku bagi orang yang shalat di dalam masjid tanpa menghadap kiblat, padahal ia memungkinkan untuk mencari, mengetahui, dan menandai arah kiblat dengan adanya mihrab dan semisalnya, namun ia tidak melakukannya dan malah menghadap bukan arah kiblat.

Kedua, orang yang sudah berusaha mencari arah kiblat dengan menggunakan kompas atau teknologi pencari arah kiblat, namun masih tetap keliru, bagaimanakah solusinya?

orang yang mengetahui kekeliruannya saat masih dalam posisi shalat itu segeralah berbalik badan langsung mengarah kiblat yang benar, tanpa harus membatalkan shalat terlebih dahulu. Hal ini mengacu pada peristiwa peralihan kiblat secara mendadak pada masa Nabi. Saat itu umat Muslim menghadap kiblat ke arah Syam, dan tiba-tiba turun perintah beralih kiblat ke arah Ka‘bah. Para sahabat langsung memalingkan badan mereka ke arah Ka‘bah tanpa harus membatalkan shalat terlebih dahulu (Baca: Sejarah Kiblat Umat Islam)

Bagaimana jika shalat sudah selesai? Apakah orang yang sudah berusaha mencari arah kiblat dengan menggunakan kompas atau teknologi pencari arah kiblat, namun masih tetap keliru tetap wajib mengulang shalat? Imam Ibnu Hubairah mengemukakan pendapat ini dalam Ikhtilaf al-Aimmah al-‘Ulama sebagai berikut.

وأجمعوا على أنه إذا صلى إلى القبلة باجتهاد، ثم بان أنه أخطأ فإنه لا إعادة إلا في أحد قولي الشافعي الجديد: يعيد (اختلاف الأئمة العلماء 1/97-98).

Ulama telah sepakat mengenai orang yang shalat dengan berusaha mencari arah kiblat, ternyata keliru dalam mencari. Orang itu tidak perlu mengulang shalat, kecuali menurut salah satu pendapat jadid imam Syafii.

Artinya, menurut banyak ulama, orang yang sudah berusaha mencari arah kiblat, kemudian keliru dan sudah selesai shalat itu tidak perlu mengulangi atau mengganti shalatnya tersebut. Wallahualam bis shawab.

Sumber :bincangsyariah.com

Kiai Cholil: Sang Pencetak Kiai-kiai Besar Nusantara

Kiai Cholil: Sang Pencetak Kiai-kiai Besar Nusantara

“Saat ini Kiai Hasyim sedang resah. Antarkan dan berikan tongkat ini kepadanya,” kata K.H. Cholil sambil menyerahkan sebuah tongkat.
SEPOTONG kalimat pendek ini memiliki makna mendalam. Kalimat pendek yang diucapkan itu, agaknya ikut memperlancar, bahkan menentukan, lahirnya sebuah organisasi yang kemudian dinamakan Nahdlatul Ulama (NU).

Siapa Kiai Cholil? Bagi warga NU, nama ini tentu tak asing. Beliaulah yang ikut membidani kelahiran NU.

Waktu itu tahun 1924. Di Surabaya ada sebuah kelompok diskusi yang bernama Tashwirul Afkar (Potret Pemikiran), yang didirikan oleh seorang kiai muda yang cukup ternama waktu itu, Kiai Abdul Wahab Chasbullah. Kelompok ini lahir dari kepedulian para ulama terhadap berbagai gejolak dan tantangan yang dihadapi umat Islam kala itu, baik mengenai praktik-praktik keagamaan maupun bidang pendidikan dan politik. Pada perkembangannya kemudian, peserta kelompok diskusi ingin mendirikan sebuah jam’iyah (organisasi) yang lingkupnya lebih besar ketimbang hanya sebuah kelompok diskusi.

Dalam berbagai kesempatan, Kiai Wahab selalu menyosialisasikan ide untuk mendirikan jam’iyah. Tampaknya tidak begitu ada persoalan, kecuali restu dari Kiai Hasyim Asy’ari, seorang kiai yang paling berpengaruh saat itu. Kiai Wahab sudah menyampaikan keinginan untuk mendirikan jam’iyah kepada Kiai Hasyim, gurunya. Namun Kiai Hasyim tidak serta-merta menerima dan merestui ide tersebut. Berbilang hari dan bulan Kiai Hasyim melakukan shalat istikharah untuk memohon petunjuk Allah. Namun petunjuk itu tak kunjung datang.

Sementara itu Kiai Cholil, guru Kiai Hasyim yang juga guru Kiai Wahab, diam-diam mengamati kondisi itu. Ternyata beliau tanggap. Seorang santri yang terhitung masih cucunya sendiri, As’ad, dipanggil untuk menghadap.

“Saat ini Kiai Hasyim sedang resah. Antarkan dan berikan tongkat ini kepadanya,” kata K.H. Cholil sambil menyerahkan sebuah tongkat.

“Baik, Kiai,” jawab As’ad sambil menerima tongkat.

“Bacakanlah kepada Kiai Hasyim ayat-ayat ini,” pesan Kiai Cholil seraya membacakan surat Thaahaa (20) ayat 18-23.

As’ad segera pergi ke Tebuireng, kediaman Kiai Hasyim.

Hidup di zaman penjajahan menjadikan kehidupan Kiai Cholil tidak Iepas dari gejolak perlawanan terhadap penjajah. Dengan caranya sendiri, Kiai Cholil melakukan perlawanan kepada penjajah. Cara utama yang dilakukan adalah melalui bidang pendidikan, Melalui jalur ini Kiai Cholil mempersiapkan pemimpin yang berilmu, punya wawasan, tangguh, dan banyak integritas, baik kepada agama maupun bangsa.

Banyak pemimpin umat dan bangsa yang berhasil dipersiapkan Kiai Cholil. Tercatat, antara lain, Kiai Hasyim Asy’ari (pendiri Pesantren Tebuireng, pendiri NU, dan termasuk pahlawan nasional), Kiai Abdul Wahab Chasbullah (pendiri Pesantren Tambakberas dan pendiri NU), Kiai Bisri Syansuri (pendiri Pesantren Denanyar dan pendiri NU), Kiai Ma’shum (pendiri Pesantren Lasem Rembang, ayahanda Kiai Ali Ma’shum, mantan Rois ’Am PBNU), Kiai Bisri Musthofa (pendiri Pesantren Rembang, pengarang kitab terkenal), dan masih banyak lagi. Kiai Cholil juga punya cara tersendiri untuk melawan penjajah. Beliau tidak melakukan perlawanan secara terbuka kepada penjajah. Beliau lebih banyak berada di belakang layar. Kiai Cholil tak segan memberikan suwuk kepada pejuang. Kiai Cholil juga tak keberatan pesantrennya dijadikan tempat bersembunyi para pejuang.

Suatu ketika ada beberapa pejuang dari Jawa yang bersembunyi di kompleks Pesantren Demangan. Tentara penjajah mencium hal ini. Dengan mengerahkan tentara yang cukup, mereka mengaduk-aduk kompleks pesantren. Mereka begitu yakin para pejuang bersembunyi di pesantren. Karena itu mereka merasa sangat marah ketika tak menemukan apa-apa. Karena jengkel, akhirnya mereka menahan Kiai Cholil. Mereka berharap, dengan ditahannya Kiai Cholil yang sudah sepuh itu, para pejuang mau menyerahkan diri.

Tapi apa yang terjadi? Bukan pejuang itu yang menyerahkan diri, malah penjajah dipusingkan berbagai kejadian yang tak mereka mengerti. Mula-mula, semua pintu tahanan tak bisa ditutup ketika Kiai Cholil dimasukkan ke dalam tahanan. Ini membuat mereka harus berjaga siang dan malam, kalau tak ingin tahanan yang lain melarikan diri. Di hari-hari selanjutnya, ribuan orang dari berbagai penjuru Pulau Madura, bahkan juga dari Jawa, berdatangan untuk menjenguk dan mengirim makanan kepada Kiai Cholil. Tentu saja hal itu memusingkan pihak penjajah.

Akhirnya mereka mengeluarkan larangan mengunjungi Kiai Cholil. Tapi ini juga tak menyelesaikan masalah. Masyarakat yang berbondong-bondong itu berkerumun, berjejal di sekitar rumah tahanan, bahkan ada yang meminta ikut ditahan bersama Kiai Cholil. Daripada dipusingkan dengan hal-hal yang tak bisa dimengerti, pihak penjajah akhirnya melepas Kiai Cholil begitu saja.

Kiai Cholil memang menjadi fenomena tersendiri. Beliau seorang yang alim dalam ilmu nahwu, fiqih, dan tarekat. Beliau juga dikenai hafal Al-Quran dan menguasai segala ilmu Al-Quran, termasuk Qira’ah Sab’ah (tujuh macam seni baca Al-Quran). Masyarakat dibikin terpukau bukan hanya karena ilmunya tapi juga karena kemampuannya dalam hal-hal yang tidak kasad mata (tidak dapat diindra). Wajar bila kemudian sebagian besar umat Islam meyakini beliau adalah waliyullah.

Kiai Cholil lahir pada Selasa 11 Jumada al-Tsaniyah 1235 H. Beliau putra H. Abdul LAtief. seorang kiai di Kampung Senenan, Desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, ujung barat Pulau Madura. Kiai Abdul Latief sangat berharap agar anaknya di kemudian hari menjadi pemimpin umat, sebagaimana nenek moyangnya. Tak salah kalau beliau berharap putranya bisa mengikuti Sunan Gunung Jati karena ia masih terhitung keturunannya. Ayah Kiai Latief, yakni Kiai Hamim, adalah anak Kiai Asral Karamah bin Kiai Abdullah bin Sayyid Sulaiman. Sayyid Sulaiman adalah cucu Sunan Gunung Jati.

Sehubungan dengan harapannya itu, anaknya, yang diberi nama Muhammad Cholil, beliau didik sendiri dengan ketat. Cholil kecil memang menunjukkan bakat istimewa. Kehausannya akan ilmu, terutama ilmu fiqih dan nahwu sangat luar biasa. Cholil muda sudah hafal dengan baik Nazham Alfiyah Ibnu Malik—seribu bait ilmu nahwu. Untuk memenuhi harapannya, Cholil muda dikirim ke berbagai pesantren untuk menimba ilmu.

Tahun 1859, ketika berusia 24 tahun, Kiai Cholil memutuskan untuk pergi ke Makkah. Sebelum berangkat, beliau dinikahkan dengan Nyai Asyik, anak perempuan Lodra Putih. Ongkos pelayaran ditutup dari tabungannya selama nyantri. Selama di pelayaran, kiai muda ini lebih banyak berpuasa. Ini dilakukan bukan untuk menghemat uang, melainkan untuk mendekatkan diri kepada Allah agar perjalanannya selamat.

Sepulang dari tanah Arab (tak ada catatan resmi mengenai tahun kepulangannya), Kiai Cholil dikenal sebagai ahli fiqih dan tarekat yang jempolan. Bahkan akhirnya beliau bisa memadukan kedua ilmu ini dengan serasi. Beliau juga dikenal sebagai al-hafidz (hafal Al-Quran 30 juz). Beliau kemudian mendirikan pesantren di Desa Cengkebuan, sekitar 1 kilometer barat laut dari desa kelahirannya. Dari hari ke hari banyak santri berdatangan dari desa-desa di sekitarnya.

Beberapa tahun kemudian, Kiai Cholil menyerahkan pesantren itu kepada menantunya, yang tak lain keponakannya sendiri, Kiai Muntaha. Akan halnya Kiai Cholil, beliau mendirikan pesantren di Desan Kademangan, hampir di pusat kota sekitar 200 meter sebelah barat laut alun-alun kota Kabupaten Bangkalan. Letak pesantren yang baru ini sekitar 1 kilometer dari pesantren lama dan desa kelahirannya. Di tempat yang baru ini Kiai Cholil juga cepat memperoleh santri. Bukan saja dari daerah sekitar, tapi juga dari tanah seberang, Pulau Jawa. Santri pertama dari Jawa tercatat bernama Hasyim Asy’ari, dari Jombang.

Setelah mengabdikan diri dalam dakwah, Kiai Cholil dipanggil Allah Ta’ala. Beliau wafat pada 29 Ramadhan 1343 H dalam usia 91 tahun (menurut hitungan tahun Miladiyah) karena usia lanjut. Jejak dan langkahnya kini tetap menjadi momen yang mengalir hidup melalui perjuangan penerus dan pengikutnya. Di Indonesia kini terdapat 6.000 pesantren lebih yang terus berkhidmah dalam hidup bangsa dan agama. Sebagian besar pengasuh pesantren mempunyai sanad (persambungan) dengan Kiai Hasyim Asyari, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai M. Bisri Syansuri, atau kiai-kiai besar lainnya di Jawa. Padahal jelas, mereka semua adalah murid Kiai Cholil. Artinya, hampir semua kiai yang ada sekarang ini mempunyai sanad sampai Kiai Cholil. Muara yang penuh misteri. []

(Dikutip dan disunting oleh Yusuf Maulana, Redaktur Ahli Islampos,dari buku Saifullah Ma’shum [ed.], 1998, Karisma Ulama: Kehidupan Ringkas 26 Tokoh NU, Bandung: Mizan dan Yayasan Saifuddin Zuhri, halaman 21-34)

Sumber : Islampos.com

Perjalanan Kehidupan Manusia Setelah Mati, Ternyata Kita Baru Menempuh Tahapan Ini

Perjalanan Kehidupan Manusia Setelah Mati, Ternyata Kita Baru Menempuh Tahapan Ini

Subhanallah, Inilah Perjalanan Kehidupan Manusia Setelah Mati, Ternyata Kita Baru Menempuh Tahapan Ini, Semoga dengan gambar dan penjelasan di bawah ini ini kita bisa merenungi kembali tentang tujuan kita hidup di dunia ini, Aamiin
Perjalanan Kehidupan Manusia Setelah Mati, Ternyata Kita Baru Menempuh Tahapan Ini
1. Alam Barzakh (Kubur)

Para salaf bersepakat tentang kebenaran adzab Dan nikmat yang Ada di alam kubur (barzakh) . Nikmat tersebut merupakan nikmat yang hakiki, begitu pula adzabnya, bukan sekedar bayangan atau perasaan. Pertanyaan (fitnah) kubur itu berlaku terhadap ruh Dan jasad manusia baik orang mukmin maupun kafir. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam selalu berlindung kepada Allah SWT dari siksa kubur.

Dari Al-Barrak bin Azib radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

Kami pernah mengiringi jenazah orang anshar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesampainya di kuburan, dan menunggu liang lahatnya dibenahi, Rasulullah duduk menghadap kiblat. Kamipun duduk di sekitar beliau dengan khusyu, seolah di kepala kami ada burung.

Di tangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada ranting, beliau tusukkan ke tanah kemudian beliau menengadah ke langit lalu beliau menunduk. Beliau ulang tiga kali. Kemudian beliau bersabda,

استعيذوا بالله من عذاب القبر، مرتين، أو ثلاثا، ثم قال: اللهم إني أعوذ بك من عذاب القبر
“Mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur.” Beliau ulangi dua atau tiga kali. Kemudian beliau berdoa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur.” (tiga kali).

Kemudian beliau menceritakan proses perjalanan ruh mukmin dan kafir.

Sesungguhnya hamba yang beriman ketika hendak meninggalkan dunia dan menuju akhirat, turunlah malaikat dari langit, wajahnya putih, wajahnya seperti matahari. Mereka membawa kafan dari surga dan hanuth (minyak wangi) dari surga. Merekapun duduk di sekitar mayit sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut ‘alaihis salam. Dia duduk di samping kepalanya, dan mengatakan, ‘Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan Allah dan ridha-Nya.’

Keluarlah ruh itu dari jasad, sebagaimana tetesan air keluar dari mulut ceret, dan langsung dipegang malaikat maut. Para malaikat yang lain tidak meninggalkan walaupun sekejap, dan mereka langsung mengambilnya dari malaikat maut.

Mereka memberinya kafan dan hanuth itu. Keluarlah ruh itu dengan sangat wangi seperti bau parfum paling wangi yang pernah ada di bumi. Para malaikat inipun naik membawa ruh itu. Setiap kali ketemu dengan malaikat yang lain, mereka akan bertanya: ‘Ruh siapakah yang baik ini?’

Mereka menjawab, ‘Fulan bin Fulan’ – dengan nama terbaik yang pernah dia gunakan di dunia –. Hingga sampai di langit dunia. Mereka minta agar pintu langit dibukakan, lalu dibukakan. Mereka naik menuju langit berikutnya, dan diikuti para malaikat langit dunia. Hingga sampai di langit ketujuh. Kemudian Allah berfirman, ‘Tulis catatan amal hamba-Ku di Illiyin.’

“Tahukah kamu Apakah ‘Illiyyin itu? (yaitu) kitab yang bertulis, Disaksikan oleh para malaikat”

“Kembalikan hamba-Ku ke bumi, karena dari bumi Aku ciptakan mereka, ke bumi Aku kembalikan mereka, dan dari bumi Aku bangkitkan mereka untuk kedua kalinya.”

Maka dikembalikanlah ruhnya ke jasadnya. Kemudian mayit mendengar suara sandal orang yang mengantarkan jenazahnya sewaktu mereka pulang setelah pemakaman.

Kemudian datanglah dua malaikat yang keras gertakannya. (dalam riwayat lain: warnanya hitam biru) Lalu mereka menggertaknya, dan mendudukkan si mayit.

Mereka bertanya: ‘Siapa Rabmu?’ Si mukmin menjawab, ‘Rabku Allah.’ ‘Apa agamamu?’, tanya malaikat. ‘Agamaku islam’ jawab si mukmin. ‘Siapakah orang yang diutus di tengah kalian?’ Si Mukmin menjawab, ‘Dia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Sang malaikat bertanya lagi, ‘Bagaimana amalmu?’ Jawab Mukmin, ‘Saya membaca kitab Allah, saya mengimaninya dan membenarkannya.’

Pertanyaan malaikat: ‘Siapa Rabbmu? Apa agamamu? Siapa nabimu?’ Inilah ujian terakhir yang akan diterima seorang mukmin. Allah memberikan keteguhan bagi mukmin untuk menjawabnya, seperti firman-Nya,

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan Ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat..” (QS. Ibrahim: 27)

Sehingga dia bisa menjawab: Rabku Allah, agamaku islam, Nabiku Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tiba-tiba ada suara dari atas, “Hambaku benar, bentangkan untuknya surga, beri pakaian surga, bukakan pintu surga untuknya.” Diapun mendapatkan angin surga dan wanginya surga, dan kuburannya diluaskan sejauh mata memandang.

Kemudian datanglah orang yang wajahnya sangat bagus, pakaiannya bagus, baunya wangi. Dia mengatakan, ‘Kabar gembira dengan sesuatu yang menyenangkanmu. Kabar gembira dengan ridha Allah dan surga nan penuh kenikmatan abadi. Inilah hari yang dulu kamu dijanjikan.’ Si mayit dengan keheranan bertanya, ‘Semoga Allah juga memberi kabar gembira untuk anda. Siapa anda, wajah anda mendatangkan kebaikan?’ Orang yang berwajah bagus ini menjawab, ‘Saya amal sholehmu.’ [suhnahallah.., amal shaleh yang menemani kita di kesepian, menemani kita di kuburan]

Kemudian dibukakan untuknya pintu surga dan pintu neraka. Ketika melihat ke neraka, disampaikan kepadanya: ‘Itulah tempatmu jika kamu bermaksiat kepada Allah. Dan Allah gantikan kamu dengan tempat yang itu.’ Kemudian si mayit menoleh ke arah surga.

Melihat janji surga, si mayit berdoa: ‘Wahai Rabku, segerakanlah kiamat, agar aku bisa berjumpa kembali ke keluarga dan hartaku.’ Lalu disampaikan kepadanya: ‘Tenanglah.’

Sementara hamba yang kafir, ketika hendak meninggalkan dunia dan menuju akhirat, turunlah para malaikat dari langit, yang bengis dan keras, wajahnya hitam, mereka membawa Masuh (kain yang tidak nyaman digunakan) dari neraka. Mereka duduk di sekitar mayit sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut, dan duduk di samping kepalanya. Dia memanggil, ‘Wahai jiwa yang busuk, keluarlah menuju murka Allah.’

Ruhnya ketakutan, dan terpencar ke suluruh ujung tubuhnya. Lalu malaikat maut menariknya, sebagaimana gancu bercabang banyak ditarik dari wol yang basah. Sehingga membuat putus pembuluh darah dan ruang tulang. Dan langsung dipegang malaikat maut. Para malaikat yang lain tidak meninggalkan walaupun sekejap, dan mereka langsung mengambilnya dari malaikat maut. Kemudian diberi masuh yang mereka bawa. Ruh ini keluar dengan membawa bau yang sangat busuk, seperti busuknya bau bangkai yang pernah ada di muka bumi. Merekapun naik membawa ruh ini.

Setiap kali mereka melewati malaikat, malaikat itupun bertanya, ‘Ruh siapah yang buruk ini?’ Mereka menjawab, ‘Fulan bin Fulan.’ – dengan nama yang paling buruk yang pernah dia gunakan ketika di dunia – hingga mereka sampai di langit dunia. Kemudian mereka minta dibukakan, namun tidak dibukakan. Ketika itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah,

لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ
(Orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya), tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. (QS. Al-A’raf: 40)

Kemudian Allah berfirman, ‘Tulis catatan amal hamba-Ku di Sijjin, di bumi yang paling dasar.’ Kemudian dikatakan, ‘Kembalikan hamba-Ku ke bumi, karena Aku telah menjanjikan bahwa dari bumi Aku ciptakan mereka, ke bumi Aku kembalikan mereka, dan dari bumi Aku bangkitkan mereka untuk kedua kalinya.’ Kemudian ruhnya dilempar hingga jatuh di jasadnya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah,

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ
Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, Maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. (QS. Al-Haj: 31)

Kemudian ruhnya dikembalikan ke jasadnya, sehingga dia mendengar suara sandal orang mengiringi jenazahnya ketika pulang meninggalkan kuburan. Kemudian datanglah dua malaikat, gertakannya keras. Merekapun menggertak si mayit dan mendudukkannya. Mereka bertanya: ‘Siapa Rabmu?’

Si kafir menjawab, ‘hah..hah.. saya gak tahu.’

‘Apa agamamu?’, tanya malaikat. ‘hah..hah.. saya gak tahu,’ jawab si kafir.

‘Siapakah orang yang diutus di tengah kalian?’ Si kafir tidak kuasa menyebut namannya. Lalu dia digertak: “Namanya Muhammad!!”, si kafir hanya bisa mengatakan, ‘hah..hah.. saya gak tahu. Saya cuma mendengar orang-orang bilang seperti itu.’

Diapun digertak lagi: “Kamu tidak tahu dan tidak mau tahu.” Tiba-tiba ada suara dari atas, “Hambaku dusta, bentangkan untuknya neraka, bukakan pintu neraka untuknya.”

Diapun mendapatkan panasnya neraka dan racun neraka. Kuburnya disempitkan hingga tulang-tulangnya berserakan. Lalu datanglah orang yang wajahnya sangat buruk, berbaju jelek, baunya seperti bangkai. Dia mengatakan: ‘Kabar buruk untukmu, inilah hari dimana dulu kau dijanjikan.’

Si mayit kafirpun menjawab, ‘Kabar buruk juga untukmu, siapa kamu? Wajahmu mendatangkan keburukan.’ Orang ini menjawab, ‘Saya amalmu yang buruk.’ – Allahul musta’an, amal buruk itu semakin menyesakkan pelakunya di lahatnya – kemudian dia diserahkan kepada makhluk yang buta, tuli, dan bisu. Dia membawa pentungan! Andaikan dipukulkan ke gunung, niscaya akan jadi debu. Kemudian benda itu dipukulkan ke mayit kafir, dan dia menjadi debu. Lalu Allah kembalikan seperti semula, dan diapun memukulnya lagi. Dia berteriak sangat keras, bisa didengar oleh semua makhluk, kecuali jin dan manusia. Lalu dibukakan untuknya neraka dan disiampkan tempatnya di neraka. Diapun memohon: ‘Ya rab, jangan Engkau tegakkan kiamat.’

Hadis ini diriwayatkan Imam Ahmad 18543, Abu Daud 4753, Syuaib Al-Arnauth menyatakan, Sanadnya shahih.

2. Peniupan Sangkakala

Sangkakala adalah terompet yang ditiup oleh malaikat Israfil yang menunggu kapan diperintahkan Allah SWT. Tiupan yang pertama akan mengejutkan manusia Dan membinasakan mereka dengan kehendak Allah SWT, seperti dijelaskan pada Al Qur’an :

“Dan ditiuplah sangkakala maka matilah semua yang di langit Dan di bumi, kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah SWT”( QS. Az Zumar :68 ).

Tiupan ini akan mengguncang seluruh alam dengan guncangan yang keras Dan hebat sehingga merusak seluruh susunan alam yang sempurna ini. Ia akan membuat gunung menjadi rata, bintang bertabrakan, matahari akan digulung, lalu hilanglah cahaya seluruh benda-benda di alam semesta. Setelah I TU keadaan alam semesta kembali seperti awal penciptaannya.

Allah SWT menggambarkan kedahsyatan saat kehancuran tersebut sebagaimana firman-Nya : ” Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan Hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada Hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya Dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, Dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah itu sangat keras” (QS.Al Hajj:1-2).

Sedangkan pada tiupan sangkakala yang kedua adalah tiupan untuk membangkitkan seluruh manusia:

“Dan tiupan sangkakala (kedua), maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka.(QS. Yaa Siin : 51).

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Kemudian ditiuplah sangkakala, dimana tidak seorangpun tersisa kecuali semuanya akan dibinasakan. Lalu Allah SWT menurunkan hujan seperti embun atau bayang-bayang, lalu tumbuhlah jasad manusia.Kemudian sangkakala yang kedua ditiup kembali, Dan manusia pun bermunculan (bangkit) Dan berdiri” (HR. Muslim).

3. Hari Kebangkitan

“Pada Hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakannya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu”. (QS. Al Mujadilah : 6)

Pada hari kebangkitan ini seluruh manusia akan dibangkitkan dalam 3 kelompok, yaitu:

Kelompok yang berkendaraan
Kelompok yang berjalan kaki
Kelompok yang berjalan dengan wajahnya
Ada salah seorang sahabat yang menanyakan, bagaimana bisa sekelompok tersebut berjalan dengan wajahnya, kemudian Muhammad menjawab

“Allah yang menjadikan mereka berjalan dengan kaki, pasti mampu membuat mereka berjalan dengan wajah.”

Bentuk Umat Manusia Di hari Kebangkitan

Nabi Muhammad bersabda, “Wahai Muadz, sesungguhnya engkau bertanyakan sesuatu yang sangat besar. Ada 12 kelompok umatku akan dihalau ke Padang Mahsyar. Mereka semuanya itu Allah Maha Kuasa tukarkan, tidak seperti mereka hidup ketika didunia.” Golongan itu adalah seperti berikut:

Pertama

Dibangkitkan dari kubur dengan keadaan tanpa tangan dan berkaki. Mereka adalah orang yang ketika di dunia dulu suka mengganggu tetangganya.

Kedua

Dibangkitkan dari kubur dengan keadaan berupa babi hutan. Mereka adalah orang yang ketika hidupnya meringankan malas dan lalai dalam salat.

Ketiga

Dibangkitkan dari kubur dengan keadaan keledai, mereka Sedangkan perut membesar seperti gunung dan di dalamnya penuh dengan ular dan kalajengking. Meraka ini adalah orang yang enggan membayar zakat.

Keempat

Dibangkitkan dari kubur dengan keadaan darah memancut keluar dari mulut mereka. Mereka ini adalah orang yang berdusta di dalam jual beli.

Kelima

Dibangkitkan dari kubur dengan keadaan berbau busuk lebih daripada bangkai. Mereka ini adalah orang yang melakukan maksiat sembunyi-sembunyi kerana takut dilihat orang, tetapi tidak takut kepada Allah.

Keenam

Dibangkitkan dari kubur dengan keadaan leher mereka terputus. Mereka adalah orang yang menjadi saksi palsu.

Ketujuh

Dibangkitkan dari kubur tanpa mempunyai lidah dan dari mulut mereka mengalir keluar nanah serta darah. Meraka itu adalah orang yang enggan memberi kesaksian di atas kebenaran.

Kedelapan

Dibangkitkan dari kubur dengan keadaan terbalik yaitu kepala kebawah dan kaki keatas, serta farajnya mengeluarkan nanah yang mengalir seperti air. Meraka adalah orang yang berbuat zina dan mati tanpa sempat bertaubat.

Kesembilan

Dibangkitkan dari kubur dengan keadaan wajah hitam gelap dan bermata biru serta perutnya dipenuhi api. Mereka itu adalah orang yang memakan harta anak yatim dengan cara zalim.

Kesepuluh

Dibangkitkan dari kubur dengan keadaan tubuh mereka penuh dengan sopak dan kusta. Mereka adalah orang yang durhaka kepada orang tuanya.

Kesebelas

Dibangkitkan dari kubur dengan keadaan buta, gigi mereka memanjang seperti tanduk lembu jantan, bibir mereka melebar sampai ke dada dan lidah mereka terjulur memanjang sampai ke perut. Perutnya pula menggelebeh hingga ke paha dan keluar beraneka kotoran. Mereka adalah orang yang minum arak.

Keduabelas

Dibangkitkan dari kubur dengan keadaan wajah yang bersinar-sinar bercahaya laksana bulan purnama. Mereka melalui titian sirath seperti kilat yang menyambar.

Mereka adalah orang yang beramal soleh dan banyak berbuat baik, selalu menjauhi perbuatan durhaka, mereka memelihara salat lima waktu, ketika meninggal dunia keadaan mereka bertaubat dan mendapat ampunan, kasih sayang dan keridhaan Allah.

4. Padang Mahsyar

“(Yaitu) pada Hari (ketika ) bumi diganti dengan bumi yang lain Dan (demikian pula) langit Dan mereka semuanya di padang Mahsyar berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”.(QS. Ibrahim:48).

Hasr adalah pengumpulan seluruh mahluk pada Hari kiamat untuk dihisap Dan diambil keputusannya. Lamanya di Padang Mahsyar adalah satu Hari yang berbanding 50.000 tahun di dunia. Allah berfirman:

“Malaikat-malaikat Dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabb dalam sehari yang kadarnya 50.000 tahun.(QS. Al Maarij:4)

Karena amat lamanya Hari itu, manusia merasa hidup mereka di dunia ini hanya seperti satu jam saja.

Dan (ingatlah) akan Hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di Hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali hanya sesaat saja di siang Hari. (QS.Yunus:45).

“Dan pada Hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa, bahwa mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat saja” (QS. ArRuum:55).

Adapun orang yang beriman merasakan lama pada Hari itu seperti waktu antara dhuhur Dan ashar saja. Subhanallah.

Keadaan orang kafir saat itu sebagaimana firman-Nya.”Orang kafir ingin seandainya IA dapat menebus dirinya dari adzab Hari itu dengan anak-anaknya, dengan istri serta saudaranya, Dan kaum familinya yang melindunginya ketika di dunia, Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya, kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya”.(QS.AlMa’arij:11-14).

Di padang mashyar nanti bendera-bendera dipasang oleh pemimpin-pemimpin kebenaran dan di bawahnya terdapat barisan-barisan pengikutnya. Bendera itu dipasang dan dikibarkan oleh :

Bendera Liwaus Shidqi (Kebenaran) dikibarkan oleh Abu Bakar Al-Shiddiq bagi semua orang yang benar dan jujur akan berada di bawah bendera tersebut.
Bendera Fuqaha’ untuk Mu’adz bin Jabal bagi semua orang yang alim fiqih akan berada dan berbaris di bawah bendera panji-panji ini.
Bendera Zuhud untuk Abu Dzar Al-Ghiffari bagi semua manusia yang menjiwai dan membudi daya dengan zuhud akan berada di bawah bendera ini.
Bendera Dermawan untuk Utsman bin Affan bagi para dermawan akan berada di bawahnya.
Bendera Syuhada untuk Ali bin Abi Thalib bagi setiap orang yang mati syahid sama berbaris di bawah bendera ini.
Bendera Qurra’ untuk Ubay bin Ka’ab bagi para qari’ sama berbaris di bawah bendera panji-panji ini.
Bendera Mu’adzin untuk Bilal bin Rabah bagi para mu’adzin akan berada pada barisan di bawah bendera ini.
Bendera orang-orang yang dibunuh dengan aniaya untuk Husain bin Ali bagi orang-orang yang dibunuh dengan aniaya akan berada di bawah bendera ini.
5. Syafa’at

Syafaat ini khusus hanya untuk umat Muslim, dengan syarat tidak berbuat syirik besar yang menyebabkan kepada kekafiran. Adapun bagi orang musyrik, kafir Dan munafik, maka tidak Ada syafaat bagi mereka.

Syafaat ini diberikan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam kepada seluruh umat Islam (dengan izin dari Allah SWT).

Selain itu ada juga syafaat yang diberikan langsung oleh Allah, Ada 7 golongan manusia yang mendapatkan syafaat khusus dari Allah ini:

Penguasa/ pemimpin yang adil.
Seorang remaja yang mengawali keremajaannya dengan beribadah kepada Allah.
Seorang lelaki yang hatinya dipertautkan dengan masjid-masjid.
Dua orang yang saling cinta-mencintai karena Allah, yakni yang keduanya berkumpul dan berpisah kerana Allah.
Seorang lelaki yang ketika dirayu oleh wanita bangsawan lagi rupawan, lalu ia menjawab: “Sesungguhnya aku takut kepada Allah”.
Seorang yang mengeluarkan sedekah dan disembunyikan, sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat oleh tangan kanannya itu (artinya dia bersedekah dan tidak menceritakan sedekahnya itu kepada orang lain).
Seorang yang berzikir kepada Allah di tempat yang sunyi, sehingga kedua matanya mencucurkan air mata.”
6. Hisab

Pada tahap (fase) ini, Allah SWT menunjukkan amal-amal yang mereka perbuat dan ucapan yang mereka lontarkan, serta segala yang terjadi dalam kehidupan dunia baik berupa keimanan, keistiqomahan atau kekafiran.

Setiap manusia berlutut di atas lutut mereka. “Dan kamu lihat tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya . Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Jatsiah:28).

Umat yang pertama kali dihisab adalah umat Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, kita umat yang terakhir tapi yang pertama dihisab. Yang pertama kali dihisab dari hak-hak Allah pada seorang hamba adalah Shalatnya, sedang yang pertama kali diadili diantara manusia adalah urusan darah.

Allah SWT mengatakan kepada orang kafir : “Dan kamu tidak melakukan suatu pekerjaan melainkan Kami menjadi saksi atasmu diwaktu kamu melakukannya”.(QS. Yunus:61). Seluruh anggota badan juga akan menjadi saksi.

Allah bertanya kepada hamba-Nya tentang apa yang telah ia kerjakan di dunia : “Maka demi Rabbmu, kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang akan mereke kerjakan dahulu”.(Al Hijr:92-93).

Seorang hamba akan ditanya tentang hal : umurnya, masa mudanya, hartanya dan amalnya dan akan ditanya tentang nikmat yang ia nikmati.

7. Pembagian catatan amal

Manusia akan merenima buku catatan amal yang telah dilakukan ketika di dunia. Amal-amal tersebut kemudian ditimbang di atas mizan atau neraca. Barang siapa yang berat amal kebaikannya akan dimasukkan ke surga dan yang ringan kebaikannya akan dimasukkan ke neraka. Apabila buku (catatan) itu berat amal kebaikkannya akan diterima tangan kanan, sebaliknya bila buku itu berat amal kejahatannya akan diterima tangan kiri. Sesuai dengan Firman Allah Al-Isra ayat 71,

“Ingatlah suatu hari yang saat itu Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya, dan barang siapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitab itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.” (Al-Isra ayat 71)

Firman Allah dalam Al- Insyiqaq ayat 7 – 12:

“Maka adapun orang yang diberi kitabnya dari arah kanannya, akan diperhitungkan amal perbuatannya dengan mudah, dan kembali kepada ahlinya riang gembira. Adapun orang yang diberikan kitab amalannya dari arah kirinya dia akan mengalami kesengsaraan, dan dimasukakan kedalam Neraka Sa’ir.” (Al- Insyiqaq ayat 7 – 12)

Pada detik-detik terakhir hari perhitungan , setiap hamba akan diberi kitab (amal) nya yang mencakup lembaran-lembaran yang lengkap tentang amalan yang telah ia kerjakan di dunia.

Al Kitab di sini merupakan lembaran-lembaran yang berisi catatan amal yang ditulis oleh malaikat yang ditugaskan oleh Allah SWT.

Manusia yang baik amalnya selama di dunia, akan menerima catatan amal dari sebelah kanan. Sedangkan manusia yang jelek amalnya akan menerima catatan amal dari belakang dan sebelah kiri, spt pada firman Allah berikut ini:

“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan ia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka ia akan berteriak : “celakalah aku”, dan ia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”,(QS. Al Insyiqaq:8-12) .

“Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata:”wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku.Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu.Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku.Telah hilang kekuasaanku dariku” (Allah berfirman): “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya”, kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala”.(QS. Al Haqqah:25 31).

8. Mizan

Mizan adalah apa yang Allah letakkan pada hari kiamat untuk menimbang amalan hamba-hamba-Nya. Allah berfirman : “Dan kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah seorang dirugikan walau sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya.Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan”.(QS. Al Anbiya:47)

Setelah tahapan Mizan ini, bagi yang kafir, dan mereka yang melakukan perbuatan syirik akan masuk neraka.

Sedangkan umat muslim lainnya, akan melalui tahap selanjutnya yaitu Telaga

9. Telaga

Umat Muhammad Shallallahu alaihi wasallam akan mendatangi air pada telaga tsb. Barang siapa minum dari telaga tsb maka ia tidak akan haus selamanya. Setiap Nabi mempunyai telaga masing-masing. Telaga Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam lebih besar, lebih agung dan lebih luas dari yang lain, sebagaimana sabdanya :

Sesungguhnya setiap Nabi mempunyai telaga dan sesungguhnya mereka berlomba untuk mendapatkan lebih banyak pengikutnya di antara mereka dan sesungguhnya Nabi Muhammad mngharapkan agar menjadikan pengikutnya yang lebih banyak (HR. Bukhari Muslim).

Setelah Telaga, umat muslim akan ke tahap selanjutnya yaitu tahap Ujian Keimanan Seseorang. Perlu dicatat bahwa orang kafir dan orang yang berbuat syirik sudah masuk neraka (setelah tahap Mizan, seperti dijelaskan di atas).

10. Ujian Keimanan Seseorang

Selama di dunia, orang munafik terlihat seperti orang beriman karena mereka menampakkan keislamannya. Pada fase inilah kepalsuan iman mereka akan diketahui, diantaranya cahaya mereka redup. Mereka tidak mampu bersujud sebagaimana sujudnya orang mukmin. Saat digiring, orang-orang munafik ini merengek-rengek agar orang-orang mukmin menunggu dan menuntun jalannya.Karena saat itu benar-benar gelap dan tidak ada petunjuk kecuali cahaya yang ada pada tubuh mereka.

Allah SWT berfirman,”Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang beriman:”Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”.Dikatakan (kepada mereka):”Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”.Lalu diadakan diantara mereka dinding yang mempunyai pintu.Di sebelah dalamnya ada rahmat da di sebelah luarnya dari situ ada siksa.(QS.Al hadid:13).

Setelah ini umat muslim yang lolos sampai tahap Ujian Keimanan Seseorang ini, akan melalui Shirat.

11. Shirat

Shirath adalah jmbatan yang dibentangkan di atas neraka jahannam, untuk diseberangi orang-orang mukmin menuju Jannah (Surga).

Beberapa Hadits tentang Shirath

Sesungguhnya rasulullah Shallallahu alaihi wasallam pernah ditanya tentang Shirath, maka beliau berkata : Tempat menggelincirkan, di atasnya ada besi penyambar dan pengait dan tumbuhan berduri yang besar, ia mempunyai duri yang membahayakan seperti yang ada di Najd yang disebut pohon Sud’an.(HR. Muslim)

“Telah sampai kepadaku bahwasanya shirath itu lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang”. (HR. Muslim)

“Ada yang melewati shirath laksana kejapan mata dan ada yang seperti kilat, ada yang seperti tiupan angina, ada yang terbang seperti burung dan ada yang menyerupai orang yang mengendarai kuda, ada yang selamat seratus persen, ada yang lecet-lecet dan ada juga yang ditenggelamkan di neraka jahannam”. (HR. Bukhari Muslim)

Yang paling pertama menyebarangi shirath adalah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dan para pemimpin umat beliau.Beliau bersabda : “Aku dan umatku yang paling pertama yang diperbolehkan melewati shirath dan ketika itu tidak ada seorangpun yang bicara, kecuali Rasul Dan Rasul berdo’a ya Allah selamatkanlah, selamatkanlah.(HRBukhari).

Jembatan yang menghubungkan Mahsyar dengan Surga, menurut keterangan sahabat Abu Said, “Jembatan ini lebih kecil dari rambut dan lebih tajam dari pedang.”

Rasulullah pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menciptakan Shirath yang berada di atas neraka, yaitu jembatan yang terletak di tengah-tengah neraka Jahannam yang sangat licin dan dapat menggelincirkan. Jembatan ini mempunyai 7 gardu (pos), yang setiap gardu jaraknya sama dengan perjalanan 3000 tahun, seribu tahun berupa tanjakan yang tinggi, seribu tahun berupa dataran, dan seribu tahun berupa lereng yang curam. Dia lebih kecil dan lembut dari pada rambut, lebih tajam dari pada pedang, dan lebih gelap dibandingkan malam yang pekat. Setiap gardu mempunyai 7 cabang, setiap cabang bentuknya bagai panah yang ujungnya tajam. Duduklah setiap hamba di atas setiap gardu tersebut dan ditanyakan kepadanya tentang perintah-perintah Allah.”

Manusia yang pertama kali menginjakkan kakinya di Shirath adalah Muhammad, dia akan memimpin kumpulan-kumpulan umatnya. Kumpulannya terbagi menjadi 10 bagian, yaitu:

Kumpulan pertama berhasil melintasi seperti kilat yang memancar.

Kumpulan kedua melintasi seperti angin yang kencang.

Kumpulan ketiga melintasi seperti kuda yang baik.

Kumpulan yang keempat seperti burung yang pantas.

Kumpulan yang kelima berlari.

Kumpulan keenam berjalan.

Kumpulan ketujuh berdiri dan duduk karena mereka dahaga dan penat. Dosa-dosa terpikul di atas belakang mereka. Muhammad berhenti di atas Shirath. Setiap kali, Muhammad melihat seorang dari umatnya bergelayut di atas Shirath, kemudian ia akan menarik tangannya dan membangunkan dia kembali.

Kumpulan kedelapan menarik muka-muka mereka dengan rantai karena terlalu banyak kesalahan dan dosa mereka. Bagi yang buruk, mereka akan menyeru: “Wahai Muhammad!” Muhammad kemudian berkata: “Tuhan! Selamatkan mereka! Tuhan! Selamatkan mereka”!

Kumpulan kesembilan dan kesepuluh tertinggal di atas Shirath, mereka tidak diizinkan untuk menyeberang.

Dikatakan bahwa, di pintu surga, ada pokok yang mempunyai banyak dahan. Bilangan dahannya tidak terkira hanya Allah saja yang mengetahui.  (perlu perhatian) anak anak yang mati belum baligh ada sendiri tempatnya yaitu Al A’raaf

Bagi umat muslim yang berhasil melalui shirath tersebut, akan ke tahap selanjutnya jembatan.

12. Jembatan

Jembatan disini, bukan shirath yang letaknya di atas neraka jahannam. Jembatan ini dibentangkan setelah orang mukmin berhasil melewati shirath yang berada di atas neraka jahannam.

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Seorang mukmin akan dibebaskan dari api neraka, lalu mereka diberhentikan di atas jembatan antara Jannah (surga) dan neraka, mereka akan saling diqhisash antara satu sama lainnya atas kezhaliman mereka di dunia.Setelah mereka bersih dan terbebas dari segalanya, barulah mereka diizinkan masuk Jannah. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ditangan-Nya, seorang diantara kalian lebih mengenal tempat tinggalnya di jannah daripada tempat tinggalnya di dunia”.(HR. Bukhari).

Setelah melewati jembatan ini barulah orang mukmin masuk Surga.

Demikianlah Perjalanan Kehidupan Manusia Setelah Mati, Semoga kita semua selamat dunia akhirat, Aamiin

Sumber :

1. Hidup Sesudah Mati edisi terjemah oleh Syaikh Jasim Muhammad
2. Al Yaum Al Akhir, Juz I,II,III oleh Dr. umar Sulaiman Al Asyqar
3. Syarah Lum’atul I’tiqad Al hadi Ila Sabilir Rasyad oleh Syaikh Utsaimin
4. Tahdzib Syarah Ath thahawiyah oleh Ibnu Abil Izz Al Hanafi
5. Tadzkirah, Imam Qurthubi
6. At Takhwif Minan Naar oleh Ibnu rajab Al Hambali
7. Hadiul Arwah Ila Biladil Afrah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah
8. Nihayatul Bidayah wan Nihayah oleh Al hafidz Ibnu Katsir
9. Ahwalun Naar oleh Muhammad Ali Al Kulaib.

Sumber : Kabarmakkah.com

Jembatan Diatas Neraka Lebih Tipis Dari Rambut, Namun Lebih Tajam Dari Pedang

Jembatan Diatas Neraka Lebih Tipis Dari Rambut, Namun Lebih Tajam Dari Pedang

Salah satu peristiwa dahsyat  yang bakal dialami oleh setiap orang yang telah mengucapkan ikrar syahadat Tauhid ialah keharusan menyeberangi suatu jembatan yang dibentangkan di atas kedua punggung neraka jahannam.
Ia tidak saja dialami oleh ummat Islam dari kalangan ummat Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam, melainkan semua orang beriman dari ummat para Nabi sebelumnya juga wajib mengalaminya.

Peristiwa ini akan dialami oleh setiap orang beriman, baik mereka yang imannya sejati maupun yang berbuat banyak maksiat termasuk kaum munafik.  Menurut sebagian ahli tafsir peristiwa menyeberangi jembatan di atas neraka telah diisyaratkan Allah di dalam Al-Qur’anul Karim.

”Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.” (QS Maryam ayat 71)

Maksud dari kata “mendatangi” ialah melintas di atas Neraka Jahannam  dengan menyeberangi jembatan tersebut. Semua orang beriman –bagaimanapun kualitas imannya-  pasti mengalaminya. Hanya saja Allah jamin keselamatan bagi mereka yang imannya sejati (orang-orang bertaqwa). Dan adapun mereka yang imannya bermasalah (orang-orang zalim/kaum munafik) akan jatuh tergelincir ke dalam Neraka Jahannam saat melintasinya.

Dalam sebuah hadits bahkan secara lebih detail Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menggambarkan keadaan jembatan dimaksud. Jembatan itu lebih tipis dari sehelai rambut dan lebih tajam dari sebilah pedang. Laa haula wa laa quwwata illa billah…!

Betapa sulitnya bagi kita untuk berjalan menyeberang di atasnya. Tetapi Allah Maha Perkasa sekaligus Maha Bijaksana. Allah akan berikan bekal bagi orang-orang yang imannya sejati untuk sanggup melintas di atas jembatan tersebut. Beginilah gambaran Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengenai jembatan tersebut dengan kejiadian-kejadian yang menyertainya:

“Dan Neraka Jahannam itu memiliki jembatan yang lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang. Di atasnya ada besi-besi yang berpengait dan duri-duri yang mengambil siapa saja yang dikehendaki Allah. Dan manusia di atas jembatan itu ada yang (melintas) laksana kedipan mata, ada yang laksana kilat dan ada yang laksana angin, ada yang laksana kuda yang berlari kencang dan ada yang laksana onta berjalan. Dan para malaikat berkata: ”Ya Allah, selamatkanlah. Selamatkanlah.”  Maka ada yang selamat, ada yang tercabik-cabik lalu diselamatkan dan juga ada yang digulung dalam neraka di atas wajahnya.” (HR Ahmad)

Jadi, menurut hadits di atas ada mereka yang bakal menyeberanginya dengan selamat dan ada yang menyeberanginya dengan selamat namun harus mengalami luka-luka dikarenakan terkena sabetan duri-duri yang mencabik-cabik tubuhnya. Lalu ada pula mereka yang gagal menyeberanginya hingga ujung. Mereka terpeleset, tergelincir sehingga terjatuh dan terjerembab dengan wajahnya ke dalam neraka yang menyala-nyala di bawah jembatan. Na’udzubillahi min dzaalika…!

Lalu bagaimana seseorang dapat menyeberanginya dengan selamat? Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjelaskan bahwa pada saat peristiwa menegangkan itu sedang berlangsung para Nabi dan para malaikat sibuk mendoakan keselamatan bagi orang-orang beriman.

Mereka berdoa: ”Rabbi sallim. Rabbi sallim. (Ya Rabbi, selamatkanlah. Ya Rabbi, selamatkanlah).”

Selanjutnya Allah akan memberikan cahaya bagi setiap orang. Baik mereka yang beriman sejati, mereka yang banyak berbuat dosa, maupun yang munafik sama-sama memperolehnya. Namun ketika sedang melintasi jembatan tersebut orang-orang yang imannya emas akan terus ditemani dan diterangi oleh cahaya tersebut hingga selamat sampai ke ujung penyeberangan.

Sedangkan orang-orang munafik hanya sampai setengah perjalanan melintas jembatan tersebut tiba-tiba Allah mencabut cahaya yang tadinya menerangi mereka sehingga mereka berada dalam kegelapan lalu terjatuhlah mereka dari atas jembatan shirath ke dalam api menyala-nyala Neraka Jahannam. Na’udzubillahi min dzaalik…!

“Allah akan memanggil umat manusia di akhirat nanti dengan nama-nama mereka ada tirai penghalang dari-Nya. Adapun di atas jembatan Allah memberikan cahaya kepada setiap orang beriman dan orang munafiq. Bila mereka telah berada ditengah jembatan, Allah-pun segera merampas cahaya orang-orang munafiq. Mereka menyeru kepada orang-orang beriman: ”Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kamu.” (QS Al-Hadid ayat 13) Dan berdoalah orang-orang beriman: ”Ya Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.”(QS At-Tahrim ayat 8)  Ketika itulah setiap orang tidak akan ingat orang lain.” (HR Thabrani 11079)

Saudaraku, sungguh pemandangan yang sangat mendebarkan. Pantaslah jika Nabi shollallahu ’alaihi wa sallam menyatakan bahwa saat peristiwa menyeberangi jembatan di atas Neraka Jahannam sedang berlangsung setiap orang tidak akan ingat kepada orang lainnya. Sebab semua orang sibuk memikirkan keselamatannya masing-masing.

Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kemunafikan, dan ‘amal perbuatan kami dari riya dan lisan kami dari dusta serta pandangan mata kami dari khianat. Sesungguhnya Engkau Maha Tahu khianat pandangan mata dan apa yang disembunyikan hati.

Sumber : kabarmakkah.com

Kucing di Masjidil Haram Ini Bangunkan Jamaah yang Tidur Saat Adzan Berkumandang

Kucing di Masjidil Haram Ini Bangunkan Jamaah yang Tidur Saat Adzan Berkumandang

Bukan cuma kewajiban tiap manusia buat silih menegaskan ibadah kepada manusia yang yang lain.
terlebih lagi makhluk lain serupa kucing juga seolah mempunyai hasrat baik yang seragam.

perihal ini pula yang nampak dari suatu video dimana seekor kucing dimana kucing tengah berupaya membangunkan jamaah yang tertidur di masjidil haram.

kejadian yang unik tersebut terjalin dikala adzan berkumandang yang berarti pula menunjukkan masuknya waktu sholat.

video yang diunggah oleh ajel (media arab saudi) memperlihatkan 2 ekor kucing yang awal mulanya bermain tidak jauh dari para jamaah.

tetapi salah seekor kucing yang bercorak belang gelap putih setelah itu berlari mendekati seseorang jamaah yang tertidur di lantai masjidil haram.

sontak jamaah pria yang masih berpakaian ihram itu langsung terbangun.

peristiwa itu juga seolah memperlihatkan seekor kucing yang berupaya membangunkan jamaah yang tengah tertidur dikala adzan berkumandang.

tetapi bila dilihat seksama, kucing tersebut serupa tengah menangkap suatu serupa serangga dan juga terlepas dari cengkeramannya.

kucing itu juga berlari buat menangkap serangga tersebut yang mengarah ke jamaah haji yang tengah tertidur.

peristiwa tersebut dapat jadi memperlihatkan kekuasaan allah lewat perantara makhluknya buat menegaskan berartinya sholat untuk umat islam.

karna apa yang terjalin di dunia ini sudah dalam rencana – nya.

wallahu a’lam

( sumber: kabarmakkah. com )

Terompet Sangkakala Sudah di Mulut Malaikat Israfil?

Terompet Sangkakala Sudah di Mulut Malaikat Israfil?

MEMANG tidak ada yang tahu pasti kapan ketiga tiupan terjadi. Namun tahukah anda jika saat ini terompet sangkakala tersebut sudah berada di bibir Malaikat Israfil? Hanya tinggal menunggu perintah, maka kiamat tidak akan bisa dihindari. Ingin tahu selengkapnya? Berikut ulasannya.
Kebenaran terompet sangkakala ini sudah banyak dijelaskan Allah SWT di dalam Alquran. Bahwa sebelum kiamat nanti terompet akan ditiup sebanyak tiga kali. Tiga tiupan tersebut sudah dijelaskan dalam Alquran. Diantaranya dalam surat An-Naml: 87 dan az-Zumar: 68

“Dan (ingatlah) hari ketika ditiup sangkakala, terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.” (QS. An-Naml: 87).

Abu Hurairah berkata, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda “Jarak antara kedua tiupan itu adalah empat puluh”

“Ya Abu Hurairah, apakah empat puluh itu?” tanya sahabat.
“Saya tidak tahu,” Jawab Abu Hurairah
“Apakah empat puluh bulan?” tanya sahabat
“Saya tidak tahu,” Jawab Abu Hurairah
“Apakah empat puluh tahun?” tanya sahabat lagi

“Saya tidak tahu,” Jawab Abu Hurairah. “Kemudian Allah menurunkan hujan, maka tumbuhlah manusia seperti pepohonan. Ketika itu tubuh anggota tubuh manusia rusak, kecuali sebuah tulang, yaitu tulang punggung bagian bawah (ekor). Dari tulang itulah manusia dihimpun kembali bentuknya kelak pada hari kiamat ” (HR.Syaikhoin)

Ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (hisab). (QS. az-Zumar: 68).

Meski tidak ada satupun makhluk yang mengetahui kapan datangnya, namun Nabi Muhammad SAW mengabarkan jika waktunya sudah dekat. Bahkan, kini terompet tersebut sudah berada di bibir Malaikat Israfil.

Abu Sa’id ra. Mengungkapkan, Nabi Muhammad SAW bersabda “Bagaimana aku dapat merasakan nikmat, sebab malaikat pemegang sangkakala sudah memasukan sangkakala (ke mulutnya). Dan Ia pasti akan langsung meniup sangkakala itu, jika telah mendengar perintah untuk meniupnya,”

Para sahabat yang mendengarkan merasa takut, lalu Rasulullah SAW bersabda “Ucapkanlah, Cukupkanlah Allah sebagai penolong kami, dan Dia sebaik-baiknya pelindung. Hanya kepada Allah lah kami bertawakkal (berserah diri).” (HR. Tirmidzi)

Lantas, bagaimana dengan kita yang hidup 1400 tahun setelah Nabi? Bukankah kedatangan kiamat semakin dekat lagi? Semoga, setiap hari kita bisa menambah pundi-pundi amal, sebagai bekal untuk menuju kehidupan yang kekal. []

Sumber : islampos.com